Maspolin.id

“Anda transfer 50 juta kalau mau anak anda selamat.”

Oleh: S Stanley Sumampouw

Tadi subuh, barusan saja, sekitar pukul stengah lima, ada telepon masuk di rumah kami. Saya bangunkan istri dan sambil ngantuk saya bergumam mungkin si anu, sambil menyebutkan nama famili saya yang memang sedang sakit berat karena juga sudah berusia lanjut.

Tidak lama setelah istri keluar kamar untuk mengangkat telepon, terdengar suara teriakan istri dan isak tangis. Saya keluar kamar dan istri menyodorkan telepon ke saya. Diujung sana suara seorang laki-laki terdengar dan lalu terjadi dialog sebagai berikut:

“Bapak dengar baik-baik, anak bapak kami tahan dan sekarang berada ditangan kami. Sekarang kalau bapak ingin anak bapak selamat dengar baik-baik pesan saya. Jangan menelepon kemanapun. Bapak harus yakin bahwa anak bapak akan selamat ditangan kami jadi bapak tidak perlu menelepon kemanapun. Sekarang kami minta nomor hape bapak dan kami akan telepon ke hape bapak juga telepon rumah ini jangan dimatikan.”
Jadi telepon rumah yang mereka pakai untuk menelepon kerumah saya tidak boleh dimatikan. Hape saya berbunyi dan sementara saya bergegas kekamar dimana hape saya berada, saya bisikkan ke istri untuk bangunkan anak saya yang laki-laki dan pergi kerumah anak perempuan saya yang disandera oleh rampok. Karena sejak tadi kita mencoba menelepon anak perempuan saya dan suaminya tetapi hape mereka mati.

Saya angkat hape saya dan suara diseberang sana terdengar:

“Sekarang bapak tenangkan istri bapak, jangan menelepon kemana-mana (karena memang istri terdengar gaduh sekali. Dalam waktu singkat anak sulung saya sudah ditelepon dan adik ipar yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya sudah datang kerumah saya suami istri). Bapak punya mbangking kan?”
“Wah, saya tidak punya.” kata saya. Padahal saya punya. Saya mencoba mengulur waktu dan berharap anak saya yang laki2 tiba secepatnya dirumah kakaknya yang di sandera.
“Sekarang bapak ke atm, lalu transfer saya 50 juta. Telepon jangan dimatikan. Itu istri bapak halo haloan telepon ke siapa? Coba bapak tenangkan istri bapak” perintah si rampok. (Perampok memonitor suasana rumah dari telepon rumah yang tidak dimatikan). Telepon saya oper ke istri saya untuk berbicara dengan istri agar saya bisa telepon si bungsu.
Dialog istri dengan rampok di hape saya, “Sabar ya pak, saya kan harus ganti baju, pakai beha, pakai celana dalam untuk ke atm dengan suami. Sabar ya pak…” (Loh? Pakai celana dalam?).
“Baik pak…baik pak…kalo bapak telepon terus bagaimana saya mau ke atm..” terdengar lagi suara istri.

Sementara itu saya sudah tersambung dengan anak bungsu saya yang sudah tiba dirumah kakaknya. Terdengar suara, “halo papa… ada apa pah..?” suara anak saya yang disandera, suara ngantuk dan agak kaget karena adiknya tiba-tiba gedor gedor rumahnya di pagi subuh. Modus!

Modus yang sama yang sudah ribuan kali kita dengar, tetapi rasa kawatir sebagai orang tua selalu timbul dan bisa mengatasi dan mengalahkan akal sehat. Bilamana akal sehat kita kalah karena berita musibah dari orang-orang yang kita cintai, maka melayanglah saldo atm kita secepat angin.

Diujung telepon, “Halo bapak…halo…halo…apakah bapak sudah di atm?”
“Sebentar pak…sebentar…sabar ya pak…saya lagi pakai celana dalam” kata saya.
“Ha? Celana dalaaa…m?” lalu
“Klik!” suara telepon dimatikan.

Dibuat, Jumat 3 Agustus 2018,
Pukul 06.20
Ditulis di Cinere.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *