Maspolin.id

Percayalah, Polisi Baik Itu Ada.

Oleh: Lazuardi J Ansori

Jum’at, 25 Januari 2019, sekitar pukul 13:00, istriku kehilangan dompet dan ponselnya saat naik motor. Dia tidak bisa memastikan, dompet itu terjatuh atau sengaja dipindah oleh orang lain.

Meski demikian, saya punya asumsi kuat itu jatuh dan si penemunya ada kemungkinan mau mengembalikan. Salah satu indikasinya adalah ponsel masih aktif.

Pukul 14:00, ponsel tersebut sudah tidak aktif lagi. Kontan saya mengubah asumsi saya mengenai niat baik pembawa ponsel istriku. Segera saya pulang untuk memblokir kartu-kartu yang ada di dompet. Mulai rekening, semua kartu kredit hingga akun-akun seperti gojek dan sejenisnya.

Sore harinya saya dan istri ke Polsek Blimbing untuk minta surat keterangan kehilangan. Semua itu kita maksudkan untuk keperluan administrasi dalam mengurus pergantian kartu-kartu penting. KTP, STNK, ATM dan lain sebagainya.

Saya sebenarnya telah cek melalui fasilitas google find. Saya menemukan satu titik lokasi dimana akun istri saya tersebut terakhir aktif. Namun saya menyadari bahwa itu tidak bisa menjadi bukti untuk pelaporan ke Polisi. Salah satu hal yang pasti adalah, titik tersebut tidak 100% akurat.

Kami mencoba untuk merelakan itu semua. Meski sempat saya bilang ke istri untuk menyiapkan sejumlah uang, siapa tahu ada yang tiba-tiba menemukannya. Sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan kepada siapapun yang berbuat baik, meskipun belum tentu yang berniat baik tersebut punya pamrih untuk medapatkan uang imbalan.

Sekitar pukul 19:00 saya iseng untuk menelpon nomer ponsel istri saya yang hilang. Ternyata aktif dan diangkat oleh seseorang. Pria dengan intonasi suara yang menurut prediksi saya bukan lagi muda.

Saya pelan-pelan berbicara dengannya, ingin mengetahui seperti apa maunya dia. Pria diujung telpon ini mengaku sebagai perantara. Temannya yang di Probolinggo menemukan dompet dan ponsel dan dia adalah orang yang ingin mengembalikan barang-barang saya tersebut.

Tanpa basa basi, dia menyebutkan ingin mendapatkan sejumlah uang dari saya sebagai tebusan. Angkanya cukup tak masuk akal bagi saya, karena sudah jauh dari harga ponsel itu sendiri. Sepertinya dia paham bahwa isi dompet saya itu banyak barang-barang penting dan itu menjadi nilai tawar baginya.

Saya yang sebelumnya sudah menata hati untuk rela itu semua hilang dan juga menyiapkan sejumlah uang kalau-kalau ada yang berniat mengembalikan, tiba-tiba marah. Saya memang tidak suka dipermainkan seperti itu.

Bingung juga saya dengan pembawa dompet dan ponsel istriku itu. Misalkan ingin berbuat baik, balikin saja dan pasti saya bukan orang gila yang tak mengerti rasa terima kasih. Jika memang mau memiliki, tinggal jual saja ponselnya, buang isi dompetnya. Kalau mau sedikit berniat baik, balikin saja dompetnya dan miliki ponselnya.

Kenapa harus minta tebusan? Entah benar atau salah, saya merasa ada unsur pemerasan.

Segera saya ke Polsek Blimbing, malam itu juga. Berniat untuk berkonsultasi sekaligus melaporkan apa yang saya alami.

Bertemu saya dengan Bripka Teguh. Kita bicara banyak malam itu. Bahkan sampai tengah malam. Bripka Teguh menyatakan jika besok paginya saya akan dihubungi petugas dari Polres Malang untuk kelanjutannya.

Esok paginya, saya ditelpon oleh Pak Aji (beliau tak bersedia disebut nama lengkap dan pangkatnya, takut riya’ katanya) menyatakan bahwa nanti ada tim yang akan menangani kasus saya. Ia menyatakan sedang di luar kota untuk urusan keluarga. Sampai di sini saya langsung salut. Ketika cuti masih bersedia sibuk tangani kasus.

Sekitar pukul 09:00, saya kembali menelpon pembawa ponsel dan dompet istri saya. Pada telepon kedua ini, pelaku sempat sedikit menaikan lagi nilai tawarnya, dia menyatakan dompet dibawa oleh temannya. Saya makin marah saat itu, tetapi tetap terkontrol, saya tak ingin dia berubah pikiran. Sebab, dengan kepolisian, saya telah merencanakan penjebakan.

Saya deal dengan nilai tebusan yang disebut pelaku dan kemudian membuat janji ketemu. Jam 16:00 di suatu tempat.

Pukul 15:00, dua orang polisi datangi rumah saya. Mereka adalah Brigadir Sutomo dan Briptu Nindi Asatullah. Kita lantas bicara tekhnis penjebakan.

10 menit sebelum waktu yang dijanjikan, saya sudah di lokasi. Sementara dua polisi yang tak pakai baju dinas tadi sudah standby di titik tertentu untuk mengawasi saya. Sebelum pelaku datang, ada lagi polisi datang ikut mengawasi (belakangan saya ketahui beliau bernama Aiptu Imam Subekti).

Pelaku datang menggunakan motor matic. Tanpa membuka helm dan maskernya, dia menyerahkan dompet dan ponsel saya. Ketika saya memastikan semua barang masih lengkap, tiga polisi tersebut langsung merapat.

Sempet kaget, waktu buka maskernya, ternyata pelaku sudah cukup berumur, mungkin hampir 50 tahun, atau mungkin sudah lebih.

Setelah dicecar pertanyaan oleh polisi, akhirnya dia mengaku bahwa bukan orang Probolinggo dan dia bukan perantara seperti yang diakuinya.

Agar tak menarik perhatian masyarakat, kita bawa pelaku ke pos polisi terdekat untuk interogasi lebih lanjut.

Sejam kemudian, setelah dikorek keterangan dan saling bernegosiasi, kami memutuskan untuk memaafkan pelaku. Sejujurnya saya kasihan dengan pelaku. Sudah tua dan mengaku hanya tukang ojek.

Saya sempat berpesan pada pelaku, “Bapak mungkin berniat baik, tapi agak serakah.” Sebelum meninggalkannya, sempat saya sisipkan uang sewajarnya sebagai bentuk simpati saya.

Dengan tulisan ini saya bersaksi bahwa polisi baik itu ada. Penanganan kasus ini sama sekali saya tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk polisi. Malah yang ada saya dibelikan kopi dan diajak ngobrol santai dan penuh keakraban.

Sekali lagi, terima kasih buat Pak Bripka Teguh, Aiptu imam subekti, Brigadir sutomo, Briptu Nindi Asatullah dan Pak Aji (yang tak bersedia disebut nama dan pangkatnya). Bapak-bapak sekalian kembali menguatkan kepercayaan saya, bahwa polisi baik itu ada.

Lazurdi J Ansori adalah seorang Manager pada perusahaan swasta dan juga aktif sebagai penulis. Lazuardi J Ansori tinggal di Malang, Jawa Timur (Red).

One thought on “Percayalah, Polisi Baik Itu Ada.

  1. Umumnya Polisi baik adanya krn dipilih dr individu yg baik, dididik dilatih dgn baik dan dilengkapi sarana yg cukup shg selalu berpikir dan bertindak untuk kebaikan. Adanya oknum ttt yg membuat pandangan sebahagian masyarakat menjadi negatif. (nila setitik merusak susu sebelanga). Semoga Polri tambah baik, profesional , maju berjaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *