Maspolin.id

SALAM REJEKI.

Oleh: S Stanley Sumampouw

Beberapa waktu yang lalu, ketika menumpang di mobil teman, saya tertarik dengan suatu buku, berukuran tidak terlalu tebal malah cenderung tipis, lupa judulnya, tetapi jelas pengarangnya adalah Dephak Chopra (mudah2an gak salah tulis itu nama).
Belakangan saya mengetahui siapa sebenarnya si Dephak Chopra ini. Dia adalah seorang guru Yoga di New York dengan klasifikasi ‘Mahaguru.’ Beliau tenar menjadi guru dari beberapa artis dan aktor terkenal Holywood dan menerbitkan banyak buku best seller. Karena saya termasuk dalam kategori ‘pembaca apa saja,’ saya pinjamlah buku tersebut dari teman saya.
Ada 2 hal yang saya ingat banget dari banyak hal yang ditulis di buku tersebut. Hal pertama tentang REJEKI dan hal kedua tentang SALAM. Sehabis membaca buku tersebut, kedua hal diatas terus terngiang-ngiang di otak saya dan berstimulasi dengan kejadian-kejadian dimasa lalu saya untuk melakukan perbandingan benar tidaknya seperti kata si pak Chopra tentang REJEKI dan SALAM tersebut? Akhirnya saya berkesimpulan, “…bener juga apa kata si pak Chopra ini.” Tetapi apa sih sebenarnya yang beliau tulis mengenai kedua hal tersebut? Dibawah akan saya coba tulis lagi apa yang saya baca, memakai ingatan saya semampunya karena buku tersebut juga sudah tidak ada di saya, bukan saya kembalikan kepada yang punya, tetapi sudah pindah tangan ke para teman saya. Sungguh perbuatan meminjam buku yang tidak bertanggung jawab memang!

Hal REJEKI.
Menurut pak Dephak, rejeki itu ibarat aliran air di sungai. Air turun dari gunung meliuk-liuk mengikuti aliran sungai, menenggelamkan apa saja yang dia lewati. Aliran air bisa dibendung, ditahan, atau ditampung disuatu tempat tertentu tanpa bisa ditahan alirannya. Kita bisa bendung dia, tetapi tetap bendungan harus diberikan pintu untuk jalannya air mengalir. Kalau tidak, maka bendungan pun dalam waktu tertentu akan ambrol! Dan bilamana bendungan ambrol, maka air akan melahap apa saja dan menimbulkan korban serta kerugian besar. Demikian.
Moril dari cerita perumpamaan ini apa sebenarnya?
Pak Dephak menerangkan, bahwa air mengalir deras itu berarti rejeki kita mengalir deras. Kita boleh saja menabung dan menyimpan hasil rejeki tersebut. Tetapi hendaknya kita tidak kikir dan pelit. Kita juga harus bermurah hati dengan membagi rejeki kita kepada orang/pihak yang membutuhkan. Membagi kepada pihak yang memerlukan pertolongan. Karena kalo kita kikir dan pelit, itu sama saja dengan kita membendung aliran sungai tanpa memberikan jalan pada air untuk mengalir, dan akan berakibat jebolnya bendungan. Dengan kata lain, kita akan dipaksa oleh alam untuk “berderma” dengan terpaksa dalam bentuk, misalnya; “Sakit, dicuri, kehilangan, kecelakaan, dibobol maling dan lain sebagainya yang sifatnya kita harus keluar uang dalam jumlah yang besar tanpa kita kehendaki.” Lalu, lanjut pak Dephak lagi, bahwasanya rejeki yang diberikan kekita itu sebenarnya sebagian adalah titipan untuk diberikan ke orang atau pihak lain yang memerlukannya. Hanya saja kita diberikan wewenang untuk mengelola dan menentukan pada siapa bagian itu harus kita berikan/sumbangkan.

Hal SALAM.
Selanjutnya pak Dephak Chopra menyoroti soal SALAM. Katanya, posisikan diri kita setiap hari dalam posisi memberi. Kalau secara materi kita tidak bisa memberi, beri salam juga gak masalah. Mengucapkan salam selamat pagi, siang, malam, atau memberikan kata-kata pujian kepada orang lain dengan tulus, akan membuat hati kita lega dan juga orang yang kita salami akan senang hatinya. Membuat orang lain bahagia akan berdampak bahagia pula pada kehidupan kita. Dan itu juga membuat ‘aura’ kita keliatan biru
Demikian kata pak Mahaguru Dephak Chopra. Bagaimana dengan pengalaman saya sendiri dikaitkan dengan kedua hal tersebut?

Setelah saya pikir-pikir sembari mengecek ke sudut-sudut kenangan saya, ada benarnya apa yang dikatakan oleh pak Dephak tersebut. Banyak kejadian di lingkungan kita orang mengalami masalah yang tidak disangka-sangka dimana akhirnya yang bersangkutan harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar atau mengalami kerugian besar karena tiba-tiba kotak perhiasannya dibawa lari pembantu yang baru bekerja beberapa hari saja.
Terlepas dari benar tidaknya apa yang ditulis oleh pak Dephak atau itu hanya faktor kebetulan semata, tetapi rasa-rasanya kita dari kecil sudah dididik bahwa menyumbang dan berbagi serta menolong orang lain yang membutuhkan itu adalah perbuatan yang mulia. Berbuat menyenangkan hati dan hidup orang lain itu juga perbuatan mulia. Jadi, menurut saya letaknya bukan dinilai dari berapa rupiah atau berapa banyak kita menolong atau menyenangkan orang lain tetapi seberapa tulus dan seberapa ikhlas kita melakukannya.

Akhirnya, sudahkah anda menyumbang dan memberi salam kepada sesama?
Selamat sore untuk anda semua dan semoga anda sukses dan berbahagia selalu.

Ditulis di Cinere, Kamis, 7 April 2011, pukul 16.25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *