Maspolin.id

Sekolah Ramah Anak Dideklarasi, Tercatat 94 Kasus Kekerasan Anak di 2018

Cilacap, Maspolin.id – SMP Pius Cilacap mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak (SRA) di halaman sekolah di Jalan A Yani, Cilacap, Jawa Tengah, Senin (29/4/2019).

Sebagai bentuk dukungan deklarasi tersebut, wakil siswa, wakil guru, dan kepala sekolah membubuhkan tanda tangan di atas banner yang dipasang sebagai background kegiatan.

SRA ini sudah dilakukan sejak dulu oleh SMP Pius, namun baru kali ini dideklarasikan.

SMP Pius Cilacap juga gencar melakukan sosialisasi guna menekan angka tindak kekerasan atau bullying, khususnya bagi anak-anak di lingkungan sekolah.

Kepala SMP Pius Cilacap C Budi Setyawan mengatakan, lingkungan pendidikan sudah sepantasnya memberikan pembelajaran dan pengelolaan sekolah menjadikan anak nyaman, aman, menyenangkan, dan menyehatkan.

“Kita ingin memberikan hak-hak bagi peserta didik yang bebas dari pem-bully-an dan ancaman kekerasan fisik maupun non fisik. Serta hidup di lingkungan bersih dan nyaman tanpa membeda-bedakan status apapun,” ucapnya usai mendeklarasikan sekolah ramah anak.

Dijelaskan, sekolah ramah anak ini terjemahan dari pendidikan keluarga, sehingga semua bisa mengawasi, berkoordinasi, mengevaluasi, serta mencari solusi secara kearifan lokal.

“Untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus diawali dengan peningkatan pola didik yang baik. Meningkatkan kualitas pendidikan kita memulai dari sosialisasi saat orientasi, bahwa sekolah ini bebas dari bullying, wali kelas, guru, dan lainnya turut serta dalam penerapan ini,” paparnya.

Jika nantinya ditemukan pelanggaran, bebernya, pihaknya secara tegas bakal menindaklanjuti sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sementara, Jefri Kurniawan dan Julius Agung, siswa SMP Pius mengatakan, peran seorang guru di sekolah ini tidak hanya sebatas tenaga pendidik, namun sebagai pelindung dan tempat untuk berkeluh kesah dengan para murid.

“Kami berharap kondisi ini akan terus berlanjut di masa mendatang, sehingga murid semakin nyaman dan terpacu untuk berprestasi dalam dunia pendidikan,” kata Jefri.

Julius menambahkan, guru di sini tidak sebatas sebagai pengajar tapi menjadi contoh dan sudah seperti teman sendiri. Kalau di sini selama ini tidak ada tindak kekerasan atau bullying.

Seperti diketahui kasus kekerasan atau bullying didominasi oleh anak-anak.

Dari data yang dihimpun melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KB PP PA) Kabupaten Cilacap, di tahun 2018 terdapat 94 kasus dan 119 korban kekerasan terhadap anak.

Sedikitnya 88 korban didominasi oleh kalangan anak-anak. Dan pada triwulan pertama 2019 terdapat 17 kasus.

Mirisnya, 14 korban juga didominasi oleh kalangan anak-anak. Kasus tersebut membuat keprihatinan berbagai pihak. (Estanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *