Maspolin.id

4 Bulan Beraksi, Tim OTT Tagana Banyumas Lakukan 60 Penanganan

Banyumas, Maspolin.id – Sejak dibentuk bulan Januari 2019, Tim Operasi Tangkap Tawon (OTT) Tagana Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, telah beroperasi selama 4 bulan melakukan 60 kali OTT, yang tersebar di wilayah Kabupaten Banyumas, bahkan merambah hingga Pemalang, Purbalingga, dan Cilacap.

Hal ini dilakukan karena berdasarkan permintaan pemilik rumah yang resah karena keberadaan sarang tawon telah mengganggu aktivitas pemilik rumah maupun warga sekitar.

Koordinator Tagana Kabupaten Banyumas Ady Candra mengatakan, tawon yang diamankan adalah jenis tawon yang ganas bertipikal menyerang, kendati masyarakat tak mengusik sarang tawon itu. “Bukan tawon madu, dan sama sekali tidak menghasilkan madu,” ucapnya, Minggu (12/5/2019).

Tawon yang ditangani adalah jenis tawon baluh, engang, gajah, vespa, dan endas.

“Kita tangani malam hari, dengan cara diunduh dengan membuat tawon pingsan terlebih dahulu di dalam sarangnya. Kemudian baru kita unduh, tidak kita bakar sarangnya,” terang dia.

“OTT terakhir yang dilakukan adalah 7 Maret 2019 dan sudah 43 kali penanganan,” imbuhnya.

Sejak saat itu, permintaan OTT dari masyarakat semakin meningkat. Dari data yang dihimpun Posko Siaga Bencana Tagana Kabupaten Banyumas, terdapat beberapa rumah atau lokasi yang telah di-OTT, diantaranya rumah Rasminah, Watumas, Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara (Minggu, 17 Maret 2019), Asriyah RT 01 RW 02 Kelurahan Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat (Minggu, 17 Maret 2019), Kompleks Musholla Nur Rohman, Karanggude Kulon Kecamatan Karanglewas (Minggu, 17 Maret 2019), Yudi Pramono RT 06 RW 02 Desa Sokaraja Tengah, Kecamatan Sokaraja (Selasa, 2 April 2019), Prima, Dusun Gendhengan RT 05 RW 01, Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas (Selasa, 2 April 2019), Sekdes Cindaga, Dusun Pocot RT 02 RW 17, Kecamatan Kebasen (Selasa, 2 April 2019), Budi, Perum Bumi Tanjung Elok, Jalan Meranti I No 144 Kelurahan Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan (Sabtu, 6 April 2019), Limah, RT 03 RW 01 Desa Wlahar, Kecamatan Wangon (Sabtu, 6 April 2019), Kholifah, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang (Selasa, 9 April 2019), Tamansari RT 02 RW 03, Kecamatan Karanglewas (Kamis, 25 April 2019), Masjid Baitulrohman, Desa Babakan, Kecamatan Karanglewas (Kamis, 25 April 2019), Musholla Al Mubarok RT 04 RW 01 Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan (Kamis, 25 April 2019), Lampu Penerangan Jalan Solar System, Jalan Singasari, Gunununglurah, Kecamatan Karanglewas (Jumat, 26 April 2019), Warung depan Balai Benih Ikan Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas (Jumat, 26 April 2019), Maisah RT 01 RW 02 Desa Dawuhan Kulon, Kecamatan Kedungbanteng (Selasa, 30 April 2019), Mukhsonudin, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas (Selasa, 30 April 2019), dan MI Ma’arif NU 1 Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas (Selasa, 30 April 2019).

Dari keterangan salah satu petugas OTT, Natim, total sudah 60 sarang tawon yang ditangani sejak Januari 2019. “Dari yang kami tangani, paling membutuhkan waktu lama adalah yang berposisi di bawah panel surya lampu penerangan jalan Desa Singasari,” katanya.

Natim menambahkan, sarang tersebut dia prioritaskan penanganannya, karena pada siang sebelumnya telah menyengat seorang anak di 50 titik tubuhnya, sehingga harus dilarikan ke UGD RS Hermina Purwokerto.

“Risiko itu tetap ada, namun kami eliminir dampaknya dan kehati-hatian dalam penanganan,” tambahnya.

Sodikun, petugas OTT lainnya menuturkan bahwa dibutuhkan kehati-hatian, analisis terhadap lokasi yang akan ditangani, dan keberanian.

“Saat kami akan menangani sarang, terkadang ada masyakarat yang ikut berkomentar, bagaimana cara menanganinya. Namun ketika kami serahkan kembali untuk ditangani sendiri, dia tidak berani,” kata Sodikun.

Menurutnya, kalau tidak hati-hati, tentu berbahaya bagi petugas sendiri. Misalnya di atas atap rumah, harus dipastikan kekuatan genting, kekuatan kayu penyangga, kabel listrik, dan kemiringan atap. “Salah perhitungan bisa celaka. Saya sendiri juga sudah pernah tersengat beberapa kali, itu sudah risiko,” sebut Sodikun. (Estanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *