Maspolin.id

#membacaramadhan

Oleh: Embie C Noer

Selama mengikuti sholat tarawih berjamaah, secara ringkas dapat dikatakan, ada beberapa tipe imam. Ada imam yang tidak begitu memperhatikan dampak ketinggian nada dasar bacaan Alfatihah-nya sehingga sebanyak dua puluh dua kali jamaah kesulitan melantunkan koor ‘aamiin’ kecuali jamaah anak-anak yang dengan riang berteriak, “Aamiin.!!”

Ada imam yang membawa jamaah dalam gerak tempo rakaat relatif cepat, sehingga gerak ruku’ dan sujud jamaah membentuk gerak bersahut-sahutan, mirip tari kipas China. Sebetulnya seberapa kecepatan gerak sholat yang baik, bisa dikira-kira, artinya tidak perlu dipatok dengan metronome seperti musik. Yang pasti, kecepatan metronome 60 untuk tempo sholat tergolong cepat apalagi lebih tinggi dari itu. Tempo 60 lazim dilakukan di musholla airport atau stasiun kereta api atau musholla pompa bensin..

Ada imam yang tidak memiliki rasa irama, sense of rhythm. Imam tipe ini membuat jamaah bergerak dalam tempo ruku’ dan sujud yang tidak memiliki kecenderungan alias tidak ada patokan. Kadang 45, 50, 55, 43, 49, 40 dst. Dalam kondisi ‘a tempo’ seperti ini, jama’ah tercabik keasyikannya karena berkali-kali terkejut lantaran selalu muncul patokan tempo baru dan baru. Apakah ini bermula dari tidak teraturnya nafas imam atau apa Wallahu’alam. Yang pasti ini pola yang mirip dengan tipe grusa-grusu dalam gerakan sehari-hari.

Ada imam yang asyik dengan lagu bacaannya sehingga saking merdunya bacaan sang imam, sampe-sampe jama’ah batinnya merasa ‘minder’ dibuatnya lantaran terkagum-kagum pada keindahan bacaan surah Imam. Imaji personal bisa jadi lenyap digantikan dengan sensasi hadir di acara yang bersifat resital. Labih lagi ada imam yang saking mahirnya dalam melantunkan lagu bacaannya, kemudian melakukan beragam rasa lagu bacaan. Dari satu style ke style lainnya.

Ada imam yang volume suaranya tergolong keras karakter dan intensitasnya. Sehingga ketika diperkeras (amplifikasi) dengan mikrofon, volume suaranya semakin menggelegar. Sensasi yang ditimbulkan sangat menekan dan fisikal serta sangat eksplisit. Dalam situasi seperti ini hampir tidak mungkin bagi jama’ah untuk melantunkan bacaan sir-nya. Kecuali yang memang terlatih dan berusaha keras untuk menembus badai volume bacaan dari imam. Sekalipun belum lazim diajarkan, tentu ada ‘adab’ volume yang pas untuk amplifikasi suara di ruang publik. Masih banyak di pesantren atau madrasah yang memasang soundsystem menggelegar, sehingga pidato dan persembahan kesenian sangat menteror.

Ada juga imam yang tipenya kebalikan dari yang bersuara keras. Imam dengan suara lirih. Imam ini sangat nyaman bagi jama’ah. Ada korelasi alamiah antara suara lirih dengan tempo yang moderat serta pola ritme yang jelas. Jika sarana amplifier memadai sehingga suara bisa terdistribusi merata ke seluruh jama’ah, tentu sangat ideal. Tapi umumnya tipe ini terkendala peralatan sehingga yang asyik hanya jama’ah di shaf satu dua sedang shaf selanjutnya berangsur-angsur menipis sampai tak terdengar.

Selamat menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan semoga Allah SWT menerima setiap ibadah kita. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamien.

Embi C Noer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *