Maspolin.id

Gangguan Kemajuan

Oleh: Embie C Noer

Sejak puluhan tahun merasakan sesuatu yang menyakitkan. Sesuatu yang menimpa bangsa saya. Sesuatu yang hingga hari ini tidak lagi jadi perbincangan penting. Bukan karena tidak penting tapi karena memperbincangkannya tak juga membuahkan sesuatu yang berarti bahkan kondisinya semakin menjadi-jadi.

Puluhan tahun setiap kali berjalan kaki di jalanan kampung atau jalan kota yang tidak terlalu besar, hanya muat dua mobil, dan umumnya tidak memiliki trotoar yang memadai. Setiap kali berjalan, rasanya diri saya adalah warga kelas terendah. Yang tertinggi mobil, lalu sepeda motor dan paling akhir baru pejalan kaki.

Tak ada bedanya mobil mewah mobil butut, selalu saja akan menghardik pejalan kaki dengan klaksonnya. Sepeda motor juga demikian bahkan lebih kacau lagi otaknya. Pengendara sepeda motor yang berseliweran di gang mengendarai motornya dengan memandang acuh tak acuh pada pejalan kaki. Seolah ekspresi wajahnya yang bodoh itu mengatakan, bahwa gang ini dibuat untuk motor bukan untuk pejalan kaki.

Sarip, pemuda Cirebon yang sejak kecil tinggal dengan saya, pagi tadi ketika sedang berjalan kaki bersama istrinya yang sedang hamil 7 bulan – baru dinikahi dua tahun, disambar mobil. Istrinya terseret mobil dan meninggalkan dunia ( Inna lillahi wa Inna ilaihi roji’un ). Sarip juga terluka kini masih ditangani di rumah sakit. Sakit sekali hati ini merasakannya. Entah harus bagaimana menghadapi kemajuan jaman yang membawa ketololoan sosial ini.

Semoga Almarhumah istri Sarip tenang Di Sisi Allah. Dan Sarip dimudahkan seluruh proses penyembuhannya, dan dikuatkan hatinya atas wafatnya istri tercintanya.

Saya mohon, sudahilah perilaku sewenang-wenang di jalan umum, agar Bangsa Indonesia tidak terus-menerus menderita gangguang kemajuan.

Embi C Noer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *