Maspolin.id

#taklucupun Tinggal Landas

Oleh: Embie C Noer

Revolusi Mental adalah program yang disampaikan oleh Jokowi. Dengan program ini, banyak fihak merasa lega, bahwa akhirnya telah lahir “Bung Karno” masa kini. Banyak harapan digantungkan pada Jokowi. Terlebih ketika Jokowi tampil dengan gaya slengean, merakyat dan anti formalitas. To the point’.

Detik berganti menit menjadi jam dan berhari-hari, bulan lalu tahun. Revolusi Mental rupanya tidak mungkin dijalankan karena persoalan mental adalah persoalan fundamental yang selama ini membuat bangsa Indonesia linglung, ngawur dan emosional. Kombinasi primitif ini sangat memprihatinkan. Gagasan Bung Karno yang mencanangkan kedaulatan budaya dan Pak Harto yang berhasil melatih seluruh rakyat dengan pola regimental, semua porak-poranda oleh trend dekonstruksi dengan jargonnya yang mematikan: kebenaran adalah kebebasan dan kenikmatan.

Babak Reformasi menghadapi musuh baru; semakin linglungnya pola pendidikan yang berdampak pada revolusi ekonomi antar fihak. Fihak-fihak yang selama masa Bung Karno dan Pak Harto terjepit. Pembajakan besar-besaran potensi kelas menengah untuk menjadi leading culture dalam waktu singkat berhasil membalik arah tujuan dari ke kanan dan ke kiri menjadi gerakan serba boleh.

Jokowi yang semula dibranding sebagai Bung Karno, rupanya Bung Karno yang bukan berapi-api pidato tentang Ganyang Imperialisme, Jokowi malah beraksi di Gelora Bung Karno ala Mick Jagger. Penampilan Jokowi pun disambut oleh hadirin sebagai sebuah langkah revolusioner. Revolusi Mental pun mendapat tafsir baru; Revolusi Mëntal adalah Jokowi.

Di tengah hiruk pikuk eforia tersebut, sisa-sisa putra bangsa dari berbagai bidang sosial budaya, panik karena melihat perkembangan yang terjadi semakin cepat tak terkendali. Infrastruktur teknologi IT kini memegang kendali bangsa. Dipacu oleh teknologi IT program Revolusi Mental pun bermetamorfosis menjadi revolusi yang méntal kesana-kemari. Konsisten pada inkonsistensi menggantikan moral dasar integritas dan loyalitas yang disederhanakan menjadi transaksi profesional bidang jasa.

Hari-hari ini banyak terdengar kata kebencian, kejujuran, dan kata-kata lain yang menggambarkan adanya gejolak pasar. Seperti lazimnya ekonomi pasar, keributan hanya terjadi di bursa efek, grosir, pasar induk dan pasar eceran. Di kalangan operator relatif tenang dan yang paling tenang adalah di level teratas. Di level ini, pertaruhannya mirip film “Trading Places”.Karya sutradara John Landis.

Inilah era Tinggal Landas. Selamat Datang “The Real Time”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *