Maspolin.id

Sandar di Cilacap, Danlanal Sambut KRI Frans Kaisiepo

Cilacap, Maspolin.id – Kapal Republik Indonesia (KRI) Frans Kaisiepo dengan nomor lambung 368 (KRI FKO-368) merapat di Dermaga VI Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Senin (20/5/2019), dan diterima Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Cilacap Lantamal V Koarmada II.

Kedatangan kapal ini terkait pelaksanaan operasi pengamanan dan penegakan laut nasional, utamanya wilayah selatan, serta melaksanakan bekal ulang.

KRI FKO-368 ini disambut Danlanal Cilacap Kolonel Laut (P) Teguh Iman Wibowo beserta perwira staf dan anggota Lanal Cilacap di Dermaga VI Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, dengan upacara penyambutan.

KRI FKO-368 yang dikomandani Letkol Laut (P) I Gede Putu Iwan, ini merupakan kapal keempat dari korvet kelas SIGMA milik TNI AL, dengan kemampuan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam, dan anti-pesawat udara, yang dibuat khusus untuk TNI AL oleh galangan kapal Damen Schelde, Belanda pada 2006.

Dalam kesehariannya, kapal ini berada di bawah komando Koarmada II, Surabaya.

“Peran Lanal Cilacap sebagai Pangkalan TNI AL yang siap memberikan dukungan dan pelayanan bagi setiap KRI yang singgah merupakan suatu hal yang menjadi tugas pokok dan fungsinya, dalam membantu menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung kesiapan dan ketahanlamaan operasional KRI dalam menjaga dan memonitor perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucap Danlanal.

KRI FKO-368 selama berlabuh di Cilacap akan melaksanakan kegiatan open ship, sehingga seluruh masyarakat, khususnya wilayah Cilacap dan sekitarnya dapat berkunjung dan menaiki salah satu kapal kebanggaan bangsa Indonesia itu.

Sebelum ke Cilacap, kapal ini berangkat dari Surabaya melewati laut selatan hingga sampai di Cilacap, yang merupakan dermaga atau pangkalan TNI AL terbesar di wilayah perairan laut selatan, selain Banyuwangi dan Benoa, Bali.

Putu Iwan mengakui Cilacap menjadi wilayah perairan laut yang akan sering didatangi oleh KRI yang dipunyai TNI AL. “Karena Cilacap tidak berbatasan dengan wilayah, namun langsung berhadapan dengan batas landas kontinen atau zona ekonomi eksklusif (ZEE) wilayah suatu negara, maka diperlukan banyak KRI untuk sandar atau berpatroli dekat Cilacap,” bebernya, Selasa (21/5/2019).

Ditanya tentang senjata yang dimiliki KRI Frans Kaisiepo, Putu Iwan menyebutkan ada tiga, meriam, torpedo, dan rudal. Untuk itulah alutsista yang dimiliki TNI AL berstandar anti-kapal selam, anti-kapal permukaan, dan anti-pesawat udara. (Estanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *