Maspolin.id

#setiapkatauntukindonesia

Oleh: Embie C Noer

Saat kecil, membayangkan Indonesia adalah milik kami, anak-anak kampung Kenduruan kota Cirebon. Anak-anak yang kakinya rata-rata korengan. Anak-anak yang setiap tanggal 17 Agustus sibuk melakukan berbagai kegiatan. Balap karung, balap kelereng di sendok. Gigit koin di buah pepaya yang dilumuri jelaga. Anak-anak yang saat bulan Ramadhan untel-untelan tidur di musholla – sesungguhnya kita tidak tidur tapi begadang bergurau sampai menjelang saat sahur. Anak-anak yang saat malam lebaran patungan duit buat nyewa becak untuk digowes bergantian keliling kota Cirebon yang sepi. Saat itu kami merasa sangat mbaureksa sebagai pemilik sah Indonesia. Saya berharap dalam doa Ramadhan tahun ini, rasa memiliki itu masih kental pada anak-anak serupa itu. Anak-anak yang saya saksikan masih sama seperti dulu, berkeliaran di lorong gang. Yang berkerumun di sekitar masjid dan musholla untuk bermain petasan sambil makan sepincuk sate urat sapi yang aromanya yang gurih mampir di hidung jama’ah yang sedang sholat tarawih. Mereka adalah anak-anak yang juga pemilik sah republik Indonesia. Anak-anak yang lantang menyanyi ‘ribang…ribang saku..” dengan lantang. Yang menyimpan sosok gambar Burung Garuda di sangkar hati sanubarinya sekalipun tidak faham apa maksudnya. Yang merasakan merah putih sebagai tanda di situlah rumah mereka yang tak akan pernah dia lepaskan demi alasan apapun. Saya bangga jadi anak Indonesia baik dulu, sekarang dan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *