Maspolin.id

Dewan Kesenian (dk) – Riwayatmu Kini

Oleh: Embie C Noer

Masih perlukan dk? Apa saja faedah yang dihasilkan dengan adanya dk? Masih perlukah di saat ini? Apakah model dk seperti yang ada sekarang ini masih klop dengan kondisi saat ini dan khususnya, terkait dengan nasib kesenian itu sendiri di masa depan. Jika perlu perombakan model dk, seperti apa model yang pas?

Konsep dk bermula dari Dewan Kesenian Jakarta (dkj). Dkj terbentuk atas inisiatif Bang Ali selaku gubernur DKI. Selain dkj, dibentuk pula Akademi Jakarta (aj), Pusat Kesenian Jakarta (pkj), Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (lpkj). Ke empat lembaga itu berada di kompleks Taman Ismail Marzuki (tim).

Konsep dk kemudian tumbuh berkembang di berbagai propinsi. Kondisi dk baik di Jakarta atau di tempat lain saat ini sama; belum berhasil memberikan kontribusi yang terukur untuk pembinaan dan pengembangan budaya seni. Yang langgeng di dk adalah keasyikan memilih anggota dk lalu membuat berbagai program yang sering tidak merupakan hasil pendalaman substansi – terkait fungsi utama dk sebagai mitra kepala daerahnya untuk program pembinaan dan pengembangan budaya seni.

Nampaknya ada persoalan dalam memaknai kemandirian, kearifan lokal, kemajuan budaya seni daerah. Tak begitu jelas apa yang dimaksudkan dengan “agar masyarakat kembali mencintai/menghargai/melindungi budaya seni”. Juga slogan “mendorong lahirnya karya-karya yang baru/inovatif/mampu bersaing dan diakui secara nasional dan internasional”. Lalu “dalam rangka mewujudkan kebudayaan yang berkemajuan”. “produktivitas dan ekonomi kreatif”. Dst. Bertaburan slogan yang tidak memiliki pengaruh operasional dan nyata disebabkan adanya keterasingan program-program budaya sosial. Ekonomi, teknologi, pendidikan, seni, politik, regulasi, berjalan sendiri-sendiri membentuk ‘sekte’ dan saling ‘mengkafirkan’ kalau toh ada sinergi tidak berupa sistem hanya sebatas event. Ada lagi trend konsep karya massal, yang diyakini jika bisa jadi yang terbanyak dan bersertifikat, maka berkhasiat mendatangkan para pelancong manca negara.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *