Maspolin.id

Tepatilah Janji, Insyaallah Jabatanmu Amanah

SEORANG pemimpin sejati tidak akan pernah ingkar janji, baik pada janji yang diucapkannya secara sadar kala menerima amanah jabatan (pelantikan) lebih-lebih janji yang dilontarkan kepada rakyat secara langsung lewat lisannya sendiri.

Nilai utama seorang manusia terletak pada konsistensinya menepati janji (jujur). Jika tidak, maka ia terkategori sebagai seorang munafik. Yaitu suatu karakter yang melekat pada diri seseorang yang memang tidak punya komitmen terhadap kebenaran (pendusta), konkritnya menepati janji.

Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi, “Tanda orang munafik itu ada tiga. Apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia meningkari, apabila diberikan amanah (diberi kepercayaan) ia mengkhianati.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Dan, orang munafik seperti itu bukan saja merusak dirinya sendiri tetapi juga menebar bahaya pada orang lain, lebih-lebih jika sifat tercela itu ada pada diri seorang pemimpin.

لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah [9]: 67).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang munafik adalah orang yang telah keluar dari kebenaran dan secara sadar memasuki jalan kesesatan. Oleh karena itu, tempat bagi orang munafik adalah neraka Jahannam. (QS. At-Taubah [9]: 68).

Waspadai Penyebab Kemunafikan

Untuk itu, seorang pemimpin perlu senantiasa waspada terhadap segala kemungkinan yang menjadikan hatinya lemah apalagi lengah, sehingga pelan namun pasti dirinya justru menjadi beban rakyat banyak karena sifat munafik di dalam dirinya sendiri.

Ibn Khaldun dalam kitab monumentalnya “Muqaddimah” menyatakan bahwa salah satu sebab utama yang membuat pemimpin berubah menjadi pribadi munafik adalah kala mendapat kekayaan. Umumnya akan bergaya hidup megah, mewah dan penuh keindahan.

Sikap hidup semacam itu akan menjadikan kemewahan dan kemapanan hidup menjadi sesuatu yang harus dipenuhi demi gengsi, sehingga makan pun bermewah-mewah, pakaian pun demiian, bejana dan berbagai kebutuhan glamour lainnya.

Apabila hal tersebut terjadi, maka seorang pemimpin dijamin tidak akan mampu berpikir secara sehat, apalagi membela kepentingan rakyatnya. Sebab, ia tidak bisa merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, jadi bagaimana mungkin ia berempati terhadap penderitaan rakyat.

Ibarat kata, rakyat kepanasan, macet, lapar, makan apa adanya. Pemimpinnya tidak pernah kegerahan, lancar dalam perjalanan, kenyang dengan makanan lezat dan mahal, serta tidak pernah berpikir mau makan apa tetapi makan dimana.

Hal-hal sederhana inilah sebenarnya yang membuat seorang pemimpin gagal menepati janji. Pantas, jika di zaman sahabat, tak satu pun dari sahabat Nabi mulai dari Abu Bakar hingga Ali yang mau hidup bermewah-mewah. Sebagai pemimpin mereka yang mulia menyadari bahwa kemewahan hanyalah pupuk penyubur sifat kemunafikan.

Dampak Kemewahan

Menurut Ibn Khaldun, dampak dari gaya hidup mewah dapat merusak kepribadian, karena menghiasi jiwa dengan berbagai kejahatan, kebiasaan hidup yang tidak teratur, dan berbagai dampak buruk lainna. Intinya, kemewahan akan menghapuskan karakter-karakter terpuji diri seorang pemimpin.


Selanjutnya, pemimpin yang bergelimang kemewahan akan terperangkap pada kemalasan. Akibatnya akan muncul kelemahan jiwa dan tidak bersemangat dalam menghadapi berbagai situasi dan kondisi. Lebih-lebih dalam menghadapi masalah-masalah krusial di masyarakat.

Jika ke depan, negeri kita masih di pimpin oleh orang-orang yang berkarakter hipokrit tentu kehancuran negeri ini tidak perlu prediksi para ahli. Betapa kenyataan-kenyataan menyayat hati yang terpampang di depan mata kepala setiap jiwa dibiarkan menganga secara sengaja.

Sederhana dan Bekerja

Dengan demikian agar terhindar dari kemunafikan, seorang pemimpin mestinya sudah tidak lagi memelihara impian untuk hidup dengan bergelimang kekayaan. Pemimpin seharusnya berpikir bagaimana berkarya dan bekerja untuk rakyatnya. Karena dengan itulah ia benar-benar akan bisa memberikan manfaat bagi kehidupan.

Belajarlah pada apa yang dilakukan sahabat Nabi, mereka tidak hina hanya karena hidup sederhana. Justru sebaliknya, setiap zaman memuja dan memuliakan mereka, membanggakan mereka, menyebut-nyebut mereka. Bukan tunggangannya, pakaiannya dan makanannya, tetapi kesederhanaannya dan kepeduliannya yang nyta terhadap derita rakyatnya.

Mereka tidak sibut membangun citra, tetapi memperbanyak kerja nyata. Seorang Umar bin Khaththab pemimpin tertinggi kala itu tidak melewati malam harinya, melainkan berpatroli mencari rakyatnya yang kesulitan, lalu ia turun tangan dan mengatasinya dengna kekuatan dirinya.

Semua itu dilakukan karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Menarikna, meski Umar tidak pernah membayar awak media, kemuliaan beliau yang mau bekerja secara nyata untuk rakyatnya ini tak pernah terhapus oleh pergiliran zaman.

Dengan demikian, untuk apa jadi pemimpin jika niatnya tidak ingin menepati janji? Selain akan dikutuk dan dilaknat oleh rakyatnya sendiri, Allah dan Rasul-Nya juga akan melaknat. Sungguh, kerugian yang tiada tara. Dan, kemunafikan tidak mungkin dipelihara, melainkan oleh orang yang rusak dan atau mungkin bahkan sudah tidak lagi beriman. Naudzubillah.

Oleh : Imam Nawawi

Edit : Agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *