Maspolin.id

AMDAL PLTU Disoal, Warga Winong Geruduk Pemkab

Cilacap, Maspolin.id – Sekitar 200 orang warga Dusun Winong, Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, Jateng, Rabu (24/7/2019), menggeruduk Pemkab Cilacap.

Mereka menuntut adanya debu batubara dari aktivitas PLTU yang hingga saat ini mengotori dusun mereka.

Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Winong Peduli Lingkungan (FMWPL) berangkat menggunakan mobil bak terbuka dari Dusun Winong menuju Desa Slarang pukul 09.00 WIB dengan pendampingan dari mahasiswa Ighopala, LBH Yogyakarta, dan Walhi Jawa Tengah, dan berakhir di depan gerbang Pendopo Wijayakusuma Sakti, kompleks Pemkab Cilacap.

Mereka berorasi menuntut hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, penghijauan di sekitar PLTU, bantuan PDAM yang diberikan PLTU agar digratiskan, kebisingan yang diakibatkan oleh proyek PLTU, dan debu batubara yang merugikan masyarakat Winong.

Warga juga mendesak agar Pemkab Cilacap kembali melakukan pengujian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) PLTU Cilacap di bawah kelola PT Sumber Segara Primadaya (S2P).

Juga, PLTU yang beroperasi menggunakan bahan bakar batubara ini dianggap memberikan dampak negatif bagi lingkungan, kesehatan maupun kenyamanan bagi warga sekitar Dusun Winong.

Orasi yang disampaikan diantaranya meminta bertemu Bupati Cilacap untuk melakukan audiensi guna menyampaikan aspirasi. Dan mereka disambut baik oleh Dinas Lingkungan Hidup.

Koordinator aksi, Fandi Ramadhan mengatakan, audiensi yang dilakukan berkait dampak yang dirasakan warga Dusun Winong akibat adanya PLTU di wilayahnya.

“Kami meminta Bupati Cilacap untuk segera menyelesaikan permasalahan ini dengan baik dan mendorong adanya pengkajian ulang AMDAL oleh Pemkab Cilacap,” ungkap dia.

Usai dialog, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup lantas menemui pengunjuk rasa untuk menyampaikan hasil audiensi yang telah disepakati bahwa akan diadakan mediasi dengan Bupati beserta stakeholder terkait rencana mengundang pengunjuk rasa yang akan dilaksanakan 30 Juli mendatang.

Setelah mengetahui hasil audiensi, warga akhirnya bersedia membubarkan diri dengan tertib dan situasi berjalan kondusif hingga selesai.

Sementara, Manajer Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah, Fahmi Bastian berharap agar mediasi yang akan dilakukan pada 30 Juli mendatang memperoleh hasil yang positif sesuai yang diharapkan bersama. (Estanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *