Maspolin.id

Konflik Reda, Nelayan Cilacap dan Pangandaran Akur

Cilacap, Maspolin.id – Ricuh nelayan Cilacap dan nelayan Pangandaran di perairan selatan Pulau Nusakambangan, reda setelah Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap memfasilitasi pertemuan mereka.

Pertemuan tersebut untuk bersepakat agar ricuh yang menjurus ke konflik akibat salah paham bisa reda.

Pertemuan antara nelayan Cilacap, Jateng dan Pangandaran, Jabar, yang difasilitasi Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap digelar Rabu (11/9/2019), di Ruang Rapat Dinas Perikanan Cilacap yang dihadiri BKSDA Jateng, PSDKP Jabar, DKPKP Pangandaran, Kepala Dinas Perikanan Cilacap, Polair, Lanal, Ketua HNSI Cilacap, Wakil Ketua HNSI Pangandaran, dan perwakilan nelayan.

Wakil Ketua DPC HNSI Kabupaten Pangandaran Muhammad Yusuf mengatakan, intinya kesepakatan antara nelayan Pangandaran dan nelayan Cilacap untuk saling menjaga rasa persaudaraan dan persatuan sesama nelayan.

“Tidak lagi saling memicu hal-hal yang memicu konflik ke arah sosial dan akan bersama-sama saling menjaga rasa gotong-royong saat melaut, sehingga satu sama lain tidak lagi saling mendahului untuk melontarkan kata atau sikap yang memicu hubungan tidak sehat apabila ada jaring yang hilang,” katanya.

Hal lain yang akan dirumuskan di provinsi (Jawa Barat) pada 16,17, dan 18 September besok, draft-nya seperti apa, dia belum tahu. Yang jelas lebih kepada penguatan MoU berkait kerukunan antara nelayan Pangandaran dan nelayan Cilacap.

Draft-nya sendiri belum tahu, apa yang akan kita sepakati di provinsi. Hanya tadi dalam pertemuan ada 14 poin yang berhasil kita setujui,” ungkapnya.

Yusuf lantas menjelaskan konflik yang terjadi, menurut dia hanya salah paham, karena ada jaring penangkap lobster yang hilang di laut, dan nelayan Cilacap mengira jaring itu tersapu oleh jaring nelayan Pangandaran, karena saat itu ada nelayan Pangandaran yang sedang menarik jaring.

Tetapi beberapa saat setelah arus reda, muncul jaring yang dianggap hilang tersebut. “Sebetulnya saat itu persoalan sudah selesai di laut,” tandasnya.

Hanya memang, kata Yusuf, karena nelayan banyak dan persoalan tidak melebar ke yang lain, dibuatkan pertemuan yang menjurus ke kesepakatan bersama mewakili semua pihak.

Dia berharap, nelayan Pangandaran dan Cilacap tidak bisa dipisahkan karena ada latar belakang sejarah yang sangat lekat, dan ke depan hal-hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi.

“Dengan adanya pertemuan ini, semoga persaudaraan nelayan Cilacap dan Pangandaran akan semakin kuat,” harap Yusuf.

Sementara, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Ditiasa Pradipta mengatakan, pertemuan hari ini sebetulnya silaturahmi antara HNSI Kabupaten Cilacap dengan HNSI Kabupaten Pangandaran, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cilacap, serta Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.

“Pertemuan ini untuk menjalin silaturahmi antara unsur pemerintah dan nelayan,” katanya.

Ditambahkan, dengan adanya berita-berita konflik di lapangan, itu karena ada gesekan kecil dan sudah diselesaikan di tingkat bawah.

“Pertemuan hari ini untuk menegaskan dan mewujudkan apakah betul gesekan tersebut sudah diselesaikan, ternyata betul sudah diselesaikan,” ungkapnya.

Dalam pertemuan ini juga, imbuh dia ada beberapa masukan dari Lanal, Polair, serta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat, juga dari Dinas Perikanan Cilacap.

“Hasil pertemuan hari ini ada 14 poin yang perlu diketahui bersama baik dari Jawa Tengah maupun Jawa Barat, termasuk Pangandaran dan Cilacap,” tandasnya.

“Intinya kita sudah sepakat bahwa nelayan Pangandaran dan Cilacap itu akur, tidak ada masalah, dan langkah ke depan kami sudah sepakat akan mengadakan pertemuan rutin antara unsur pemerintah dan HNSI yang notabene adalah nelayan,” kata Didit, panggilan akrab Ditiasa Pradipta.

Menurut Didit, pertemuan rutin tersebut akan dikemas dalam coffee morning dan Kabupaten Cilacap yang akan ketempatan pertama kali. “Insya Allah mulai bulan depan,” tutupnya. (Estanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *