Purbalingga, Maspolin.id – Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE B Econ MM atau akrab disapa Tiwi, minta kepada orangtua dari anak penerima bantuan sosial beasiswa AUSTS, uangnya tidak untuk membeli beras.

Hal itu disampaikan bupati saat acara Penyerahan Buku Tabungan Bantuan Sosial Beasiswa Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah (AUSTS) di Pendopo Dipokusumo, kompleks Pemkab Purbalingga, Jawa Tengah, Rabu (8/1/2020).

Bantuan sosial beasiswa AUSTS tidak boleh digunakan untuk kegiatan-kegiatan konsumtif. Karena tujuannya sudah sangat jelas, yakni untuk keperluan sekolah anak. “Jadi uang ini dapat bapak ibu dan adik-adik gunakan untuk membeli peralatan sekolah, membeli seragam, termasuk untuk biaya transpor,” tandas Tiwi.

Bantuan beasiswa AUSTS ini diberikan bagi siswa baru dan siswa lanjutan.

Untuk siswa baru mendapat Rp 1 juta kategori SD, Rp 1,5 juta untuk SMP dan peserta kelompok belajar (Kejar) baik Kejar Paket A maupun Paket B.

Termasuk untuk siswa-siswi lanjutan yang sudah pernah mendapat bantuan AUSTS sebelumnya, untuk SD Rp 450.000, dan SMP Rp 750.000.

Bantuan sosial beasiswa AUSTS tersebut memakan anggaran cukup lumayan, yakni Rp 1,2 miliar.

Dana sebesar ini sengaja digelontorkan untuk memberikan bantuan dan sentuhan kepada anak-anak usia sekolah tidak sekolah di Kabupaten Purbalingga, di mana menurut data saat ini berjumlah 1.300 anak.

Bantuan AUSTS merupakan bantuan di luar bantuan pemerintah pusat berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Selama ini KIP tidak mengakomodir seluruh jumlah AUSTS yang ada di Kabupaten Purbalingga, dan setiap tahun pemkab menganggarkan bantuan ini, dan tiap tahun jumlah AUSTS juga semakin bertambah.

“Kita sudah mengalokasikan anggaran Rp 1,2 miliar untuk sekitar 1.300 anak AUSTS yang ada di Purbalingga. Meski demikian, jumlah AUSTS dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tahun 2017 sekitar 551 anak, tahun 2018 ada 848 anak, dan di tahun 2019 ada sekitar 1.300 anak,” ungkap Tiwi.

Untuk itu, pemerintah berkomitmen bagaimana AUSTS di Kabupaten Purbalingga bisa tertangani 100 persen oleh anggaran kabupaten.

Tiwi berpesan kepada para penerima beasiswa bahwa sebagai generasi penerus dan calon pemimpin masa depan, diharapkan disiapkan sejak sekarang. Belajar yang rajin merupakan kunci untuk dapat meraih masa depan.

“Pesan saya, kalian adalah calon-calon pemimpin masa depan. Persiapkan diri kalian mulai sekarang dengan belajar yang giat, belajar yang rajin,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga Setiadi mengatakan, sampai saat ini rata-rata lama sekolah di Kabupaten Purbalingga kurang dari 7 tahun. Angka partisipasi kasar sekolah untuk SD/MI di Kabupaten Purbalingga sudah 100 persen.

Meski demikian di lapangan masih dijumpai anak usia sekolah, ada yang tidak bersekolah. Berbagai faktor menjadi penyebab anak usia sekolah tidak bersekolah. Salah satunya faktor ekonomi, disamping sebab lain seperti jarak, semangat anak yang kurang, dan dorongan orangtua yang kurang.

Oleh karena itu, sejak tahun 2016, Purbalingga memprogramkan penanganan anak usia sekolah yang tidak bersekolah. “Tahun 2016 program penanganan anak usia sekolah tetapi tidak bersekolah (AUSTS) dianggarkan sebesar Rp 3 miliar. Dari total anggaran tersebut hanya mampu terserap Rp 225 juta untuk 193 siswa. Kemungkinan ketidakberhasilan ini karena merupakan program baru. Tahun 2017 berhasil ditangani 551 siswa dengan anggaran Rp 597.750.000, tahun 2018 berhasil ditangani sebanyak 848 siswa dengan anggaran Rp 862.250.000, dan tahun 2019 berhasil menangani siswa sebanyak 1.300 dengan anggaran Rp 1.250.750.000.” jelasnya. (Estanto)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini