Cilacap, Maspolin.id – Untuk mengantisipasi musim kemarau dan perubahan iklim di wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, BPBD Cilacap menggelar Rapat Koordinasi dan Evaluasi di Ruang Rapat Siaga Lantai II BPBD Kabupaten Cilacap, Selasa (23/4/2019).
Rapat dimaksudkan sebagai langkah preventif terkait perubahan iklim di wilayah Kabupaten Cilacap, dimana akan berakhir musim penghujan.
Dengan datangnya musim kemarau yang berpotensi menimbulkan bencana kekeringan, sejumlah tim gabungan dari BPBD Kecamatan dan berbagai instansi berpikir keras untuk meminimalisir berbagai dampak yang akan berpengaruh bagi kehidupan masyarakat.
Dari pihak Kodim 0703/Cilacap mengutus Perwira Seksi Operasi (Pasi Ops), Kapten Cba Muhammad Isa Saefudin sebagai pejabat yang berkompeten dan sudah berpengalaman dalam berbagai penugasan operasi penanggulangan bencana alam, untuk mengikuti acara tersebut.
Kasubbag Perencanaan BPBD Kabupaten Cilacap, Erna Suharyati mengatakan, BPBD sebagai lembaga yang menangani penanggulangan bencana di daerah berupaya melakukan koordinasi dengan semua pihak, dalam upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi musim kemarau tahun 2019.
“Caranya dengan melakukan pemetaan daerah rawan bencana secara dini sebagai langkah awal dalam bertindak,” ucapnya.
Pada tahun 2018 terdapat 17 kecamatan di Kabupaten Cilacap tergolong rawan bencana kekeringan.
Sehingga perlu pendataan yang up to date, yang nantinya memudahkan dalam pemberian bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Selain itu, papar Erna, untuk memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana setiap tanggal 26 April, kita akan melaksanakan simulasi penanggulangan bencana, sehingga kita akan selalu siap manakala terjadi bencana di daerah.
Sementara, Pasi Ops Kodim 0703/Cilacap yang berkompeten dan menguasai pemetaan daerah rawan bencana serta memiliki peta klasifikasi wilayah dan data teritorial, terus berkoordinasi untuk mendukung BPBD Cilacap dalam upaya penangulangan bencana.
“Untuk mengantisipasi musim kemarau, dari sekarang kita harus memberdayakan sumber mata air yang ada di wilayah. Sehingga desa-desa yang rawan kekeringan dan kekurangan air bersih dapat diminimalisir,” terang M Isa Saefudin. (Estanto)










