Oleh: S Stanley Sumampouw
Sebelum saya mulai menulis sebaiknya saya ingatkan fungsi jalan tol dibuat, yaitu bebas hambatan, cepat dan hemat waktu dan kalau bisa ekonomis.
Jika anda memakai jalan tol lalu terjadi hal sebaliknya, sepertinya fungsi dan maksud jalan tol tersebut dibuat, gagal total.
Hari ini, Jumat 2 April 2021, hari libur nasional Wafatnya Isa Almasih dan hari libur kejepit nasional pula, bermaksud terapi air panas dan sekalian ingin menikmati sejuknya alam Kuningan di Cirebon. Berangkat dari Cinere, Depok, pk 08 pagi kami rencanakan tiba di Cirebon antara pk 12 atau 13, makan siang dan sesudahnya langsung ke Kuningan untuk berendam air panas baru kembali ke hotel di Cirebon, sorenya.

Rencananya, besoknya, hari Sabtu, kami bisa berendam lagi sebelum kembali ke Jakarta. Tapi apa boleh buat tai kambing bulat-bulat. Macet yg berkepanjangan membuat kerugian yang tidak sedikit dan merubah berbagai rencana.
Lalu siapa yang salah?
Dalam setiap kejadian, apalagi merugikan perlu ada yang disalahkan dan dipersalahkan agar kita menjadi manusia kumplit yang selalu saling menyalahkan.
Lalu siapa dalam hal ini yang perlu kita salahkan? Pasti kalian sudah bisa menebak siapa yang ingin saya salahkan. Ya pemerintahlaaa….?
Jelas jelas pemerintah tidak becus kerjanya. Tidak becus kerjanya karena tidak mengantisipasi liburan panjang dan hari kejepit pada tanggal 2, 3 dan 4 April tersebut.
Pemerintah lupa, bahwa membuat issue bahwa nanti pada saat Lebaran tidak boleh pulang kampung mengakibatkan mereka meluapkan keinginan pulkamnya lebih awal, sekarang. Jalan tol disesaki berbagai jenis mobil dominan berplat B.
Kegagalan pemerintah mengantisipasi pulkam lebih awal diperparah dengan perbaikan jalan di 10 titik (atau lebih?), dari tol Cipali sampai tol Palimanan. Siapa yang suruh memperbaiki jalan tol di banyak titik pada waktu liburan akhir pekan? Nenek nenek juga tau, bahwa memperbaiki jalan dibanyak titik pada akhir pekan pasti mengakibatkan kemacetan panjang.
Belum lagi iring-iringan pejabat Polri dan TNI, memakai nomor plat sipil berkode khusus, yang tidak mau tau dengan antrian macet, dan memaksakan untuk memberikan jalan bagi iring-iringannya seakan hanya mereka saja yang punya kepentingan mendesak di jalanan.
Jadilah, semua itu membuat perjalanan liburan dengan maksud juga melakukan terapi yang seharusnya nyaman menjadi separo neraka (kalau neraka punya jalan tol keles…).
11 jam perjalanan dari Jakarta ke Cirebon bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi setiap warganegara yang membayar tol, membayar pajak, mentaati aturan-aturan, yang sudah selayaknya diberikan pelayanan prima oleh hamba rakyat yaitu PEMERINTAH.
Cirebon, Hotel Batiqa, Sabtu 3 April 2021, pk 06.50 wib.










