Oleh: Arinta P Lenggono, Waketum Maspolin IS dan Bendum DPP KBPP Polri.
Salah satu Fase terberat dalam kehidupan kita adalah ketika kita harus kehilangan apa yg menjadi milik kita yg kita pikir akan menjadi milik kita selamanya……
Tidak ada seorangpun yg siap kehilangan sekalipun sepanjang hidupnya sudah berpengalaman merasakan berbagai macam kehilangan
Bukan hal yg mudah melepaskan apa yg pernah kita genggam
Mengikhlaskan harapan adalah rasa kehilangan yg sulit didefinisikan
Dan kehilangan yg paling menyakitkan adalah ketika takdir hadir menjemput orang yg kita cintai dan memberangkatkannya menuju Singgasana Pemilik Alam Semesta
Seratus hari yg lalu, aku dipaksa oleh takdir merasakan kehilangan Ayahanda tercinta yg telah mendapatkan gilirannya untuk kembali kepada Sang Maha Penguasa Kehidupan
Rasa duka & nyeri yg mendesak untuk dikeluhkan, terasa menembus relung kalbu, menyusuri dinding pembuluh darah, menguasai denyut nadi serta menutup rasa ikhlas dan pasrah
Doa² malamku dipenuhi ungkapan keluhan & kekecewaan terhadap takdir yg kuanggap tidak berpihak kepadaku
Astaghfirullahaladzim…..
Tetapi kini,
Ketika Kematian perlahan mengintai
melalui tirai² kesakitan,
Ketika Kematian mulai sering mengakrabkan diri dengan kehidupan,
Ketika kematian rutin hadir meminta untuk berjumpa
walau kita enggan bertemu dengannya,
Ketika Kematian kerap menyapa & melamar lewat guncangan prahara yg datang bertubi-tubi
Ketika Kematian demi Kematian disiarkan sebagai berita duka yg seolah telah dijadwalkan
Menyisakan Jiwa² rapuh yg merintih dalam kekosongan
Saat mereka dipaksa melepaskan genggaman orang² tercinta pada waktu yg bersamaan menuju liang lahat yg menganga
Tanpa upacara, tanpa ritual, tanpa penghormatan terakhir, tanpa Takziah, tanpa iringan handai taulan,
Hanya berteman kesunyian & kelamnya semesta
Menyaksikan rasa kehilangan yg jauh lebih menyakitkan & Detik² kepedihan yg terus bertambah,
saat mengawali pagi hari dengan membaca ucapan² Innalilahi yg membanjiri lini masa media sosial dengan nama² yg berbeda, Seolah meruntuhkan dinding ambang batas kesadaranku, Kala aku dihadapkan pada kenyataan bahwa kehidupanku masih jauh lebih sempurna & rasa kehilanganku harus segera diikhlaskan…..
Cinere, 11 Juli 2021
Arinta S P Lenggono
Aku dedikasikan untuk Para Sahabatku yg telah pergi menuju dimensi yg berbeda, semoga Husnul Khotimah
Rizal Tanjung (Temen SD)
Benny Tetanoe (Temen SMP)
Tenny Dewi (Temen SMP)
Tahar Tanti (Lira Sulsel)
Irham Maulidy (Lira/Aksira Jatim)
Retno Sari Dewi (DPP Gerindra/Pira)
Rachmawati Soekarno (Wkl Ketua Dewan Pembina Gerindra)
Jane Shalimar (DPP Lira)
Feizal Rachman (Bawaslu RI)
Poppy Purnamasari (Maspolin)
Sahala Hutabarat (Bendahara RT Cinere)










