Banyumas, Maspolin.id – Nasib ratusan penderes di sentra penghasil gula merah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai penderes nira, dan mereka meninggalkan desanya. Ada yang merantau ke Jakarta menjadi buruh bangunan serta serabutan lainnya. Hal itu dilakukan karena kemarau panjang, sehingga menyebabkan produksi air nira turun drastis.
Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Banyumas, sudah berlangsung lebih enam bulan. Kondisi ini membuat bunga atau manggar pohon kelapa yang biasa disadap air niranya untuk bahan gula merah ini kering karena bunganya pecah.
Akibatnya, ratusan penderes di sentra-sentra penghasil gula kelapa, seperti di Kecamatan Cilongok, Pekuncen, dan Ajibarang terpaksa meninggalkan pekerjaannya.
Para buruh penderes tak bisa memproduksi gula kelapa karena air nira sedikit akibat musim kemarau. Padahal, pekerjaan menderes merupakan mata pencarian pokok mereka sehari-hari.
Salah satu buruh penderes asal Desa Semedo, Suwarno mengatakan, saat ini sejak kemarau, para penderes susah sekali karena bunga kelapanya atau manggar rusak dan kering.
Rusaknya bunga kelapa mengakibatkan air nira sedikit, bahkan tidak keluar. “Penderes berharap Pemda memberikan pekerjaan sementara, karena produksi gula saat kemarau seperti saat ini menurun,” ucapnya, Minggu (27/10/2019).
Menurut Suwarno, dalam keadaan normal, dia memanjat 25 pohon bisa mendapatkan 8 kilogram gula kelapa. “Sejak musim kemarau, pendapatan air nira sedikit, dan jika dijadikan gula kelapa ikut turun, dari 8 kilo menjadi dua kilogram,” imbuhnya.
Imbas dari musim kemarau, bunga kelapa atau manggar banyak yang pecah serta tidak ada serapan air pada pohon kelapa, sehingga air nira yang diserap kecil. Nasib penderes bagai jatuh tertimpa tangga, saat produksi turun, harga juga anjlok.
Dari ratusan penderes, sebagian penderes mencoba mengadu nasib bekerja di Jakarta menjadi buruh bangunan. Semua peralatan untuk penderes ditanggalkan, dan tidak ada aktivitas di dapur.
Sementara penderes lain justru bertahan di desanya menjadi buruh bangunan dan serabutan lainnya, demi kebutuhan keluarga. Bahkan ada yang beralih menjadi tukang kayu demi mendapatkan penghasilan, seperti Narsum, salah satu warga.
“Kalau saya memilih mencari pekerjaan lain di kampung saja. Alasannya tidak biasa merantau. Untuk penghasilan memang besaran menderes dibandingkan pekerjaan bangunan yang hanya 80 ribu rupiah per hari,” jelas Narsum.
Saat ini harga jual gula kelapa serbuk dari penderes ke tengkulak berkisar Rp 16.500 per kilogram. Namun penderes tak bisa menikmati karena harga gula tetap dan tidak ada kenaikan.
Pengepul gula serbuk, Gumuh Sutopo mengatakan, akibat cuaca serta kemarau panjang berimbas pada produksi air nira dan gula merah yang mencapai 60 persen. “Penurunan terparah mulai bulan Agustus sampai sekarang sejak kemarau melanda,” ujarnya.
Gumuh menambahkan, penurunan produksi gula merah terjadi sejak tiga bulan antara Agustus sampai sekarang. Penurunan produksi untuk tahun ini terparah mencapai 60 persen, bahkan cenderung menurun apabila kemarau belum juga berakhir. (Awan)










