Surakarta, Maspolin.id – Pengelola jalan tol Trans Jawa, PT Jasa Marga (Persero) Tbk menggelar Temu Pelanggan 2019 di Solo, Rabu (9/10/2019).

Acara yang dilaksanakan di Ballroom Hotel Adhiwangsa itu dihadiri sekitar 500 undangan yakni para pengguna jalan tol ruas Semarang-Ngawi.

Tema temu pelanggan kali ini Bersama Pelanggan Kita Budayakan Tertib Berlalulintas di Jalan Tol.

Kegiatan ini untuk mempererat tali silaturahmi dengan pelanggan dan pemahaman tertib berlalulintas di jalan tol.

Direktur Trans Marga Jateng, David Wijayatno mengatakan, permasalahan kecelakaan semakin hari semakin naik angkanya.

Pada tahun ini tercatat 313 kasus kecelakaan selama Januari-September. Dari jumlah tersebut, meninggal dunia 21 jiwa dan luka-luka ratusan orang.

Kecelakaan paling tinggi di ruas Solo-Ngawi mencapai 198 kasus, disusul ruas Semarang-Solo 89 kejadian dan Semarang-ABC 26 kasus kecelakaan.

Kendati angka lakalantas Solo-Ngawi paling tinggi, namun korban meninggal dunia terbanyak justru di ruas Semarang-Solo mencapai 13 jiwa.

“Kualitas Semarang Solo kualitas kecelakaaan meninggal dunia paling tinggi selama 9 bulan ada 13 orang. Ini yang kami prihatin,” ungkapnya.

Dia membeberkan, faktor penyebab kecelakaan ruas tol Semarang-Ngawi paling tinggi karena pengemudi mengantuk, yakni 32,9 persen. Disusul pengemudi kurang antisipasi, 29,8 persen. Sementara faktor ban pecah di urutan ketiga mencapai 24,7 persen. “Faktor kendaraan 12,3 persen,” ungkapnya.

Tingginya angka lakalatas di jalan tol ini membuat prihatin pengelola jalan tol PT Jasa Marga. Sejalan dengan program pemerintah, maka 2020 menuju zero fatality, atau 0 korban meninggal. Bebagai upaya dilakukan untuk menekan korban mati di tempat maupun angka lakalantas.

“Makanya kita sejalan dengan Kemen PUPR, tahun 2020 menuju zero fatality, atau 0 korban meninggal. Untuk meningkatkan upaya menuju zero accident,” katanya.

AKP Mufid yang mewakili Dirlantas Polda Jateng mengungkapkan, rata-rata pengendara melebihi batas kecepatan yang ditentukan, yaitu 80-100 km/jam. “Dalam waktu dekat ini akan dilakukan penindakan bagi kendaraan yang melebihi kecepatan di jalan tol,” tandasnya.

Pihak Jasa Marga dan Dirlantas Polda Jateng saat ini telah memasang 204 smart CCTV untuk merekam kecepatan tinggi. Dan akan ditambah 40 titik, sebagai upaya menekan angka lakalantas di jalan tol. “Tapi titiknya tidak saya sampaikan, nanti pengendara di tempat itu melambat,” bebernya.

Untuk itu pihaknya terus mendorong budaya tertib berlalulintas di jalan tol.

Tersambungnya jalan tol Trans Jawa akan berpotensi meningkatkan angka kecelakaan di jalan tol karena jarak yang jauh dan tanpa istirahat. “Maka, pihak Jasa Marga harus menambah rest area,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, tahun 2020 mendatang ditetapkan sebagai tahun zero fatalities.

“Sehingga tantangan Jasa Marga adalah segera meminimalisir fatality. Setidaknya tidak ada kecelakaan di jalan tol. Dan pemasangan speed scan di beberapa titik jalan tol untuk memantau batas kecepatan,” tutur dia.

Ahmad Wildan dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menerangkan, KNKT bekerja secara investigatif tidak boleh mencari kesalahan. Juga tidak boleh menuntut seseorang ke pengadilan.

Pola kecelakaan di jalan tol menurut Wildan dikarenakan dua faktor, jalan lurus dan naik turun.

Dalam temu pelanggan terungkap bahwa terjadinya kecelakaan bukan melulu faktor kendaraan atau human error, tetapi faktor pengetahuan sopir terhadap spesifikasi kendaraan kurang memadai, dan cenderung membiarkan.

Peserta temu pelanggan dari berbagai kalangan termasuk para agen travel, perusahaan otobus, dan komunitas otomotif.

Acara ditutup dengan pembagian hadiah doorprize yang terdiri dari power bank, smartphone, kipas angin, dispenser, magic com, televisi LED 32 inchi, sepeda gunung, dan sepeda motor matic. (Awan/Estanto)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini