Oleh: S Stanley Sumampouw
Pada tanggal 18 Juli 2019, saya melakukan pemasangan Indihome dirumah saya yang lain. Kenapa saya tertarik dengan Indihome sedangkan dirumah saya yang lain saya sudah memakai jaringan internet lain tanpa keluhan?
Selain karena seringnya saya berjumpa dengan mobil berwarna merah yang membuka konter kecil disetiap jalan menuju rumah saya, saya juga mengira bahwa tarif Indihome mungkin lebih murah karena dikelola oleh perusahaan BUMN yang kita semua sudah tahu siapa itu dan apa itu Telkom.
Saya mengambil paket internet plus saluran tv berbagai channel yang bertarif Rp 360.000,- per bulan. Demikian kesepakatan saya dengan si pramuniaga mobil konter Indihome. Setelah meminta nomor hape saya, pramuniaga mengatakan bahwa nanti sore akan ada yang menghubungi saya untuk pemasangan dirumah saya.
Sore hari saya di telepon dan orang diseberang telepon mengatakan bahwa pemasangan di rumah saya tidak dapat dilakukan dikarenakan line sudah penuh. Saya berpikir, jika komplek perumahan sebesar ini saja linenya sudah penuh ngapain juga itu mobil konter masih mangkal diwilayah rumah kami?
Besoknya, agak siang, saya di telepon oleh orang yang mengaku tim teknisi Indihome. Dia mengatakan bahwa dia dapat mengusahakan penambahan line baru dengan menarik kabel dari komplek perumahan sebelah sejauh 250 meter. Untuk itu saya akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 200.000,- atau terserah kebijaksanaan saya saja. Disini sudah timbul kecurigaan saya jangan-jangan ini bajakan atau gelap. Tetapi teknisi tersebut meyakinkan saya bahwa ini semuanya resmi dan saya pun akan mendapatkan tagihan resmi dari perusahaan Indihome. Okelah. Deal! Singkat cerita dia pasang dan saya bayar Rp 200 ribu rupiah sebagai biaya ekstra tarik kabel.
Karena kesibukan saya lupa membayar hingga terjadi pemutusan sambungan pada tanggal 1 September 2019.
Kelalaian pembayaran ini juga dikarenakan tidak adanya peringatan atau penagihan dalam bentuk apapun dari pihak Indihome kepada kami. Tapi okelah, anggap saja itu kelalaian saya.
Saya melangkah menuju Indomaret untuk membayar dan terkejut bahwa nilai yang harus saya bayar berjumlah Rp 870 ribu rupiah. Kok segitu banyak ya, kalau toh dihitung sudah 2 bulan
nilainya tidak lebih dari 800 ribu, jika paket saya hanya Rp 360 ribu per bulan. Dan bukankah Juli dimulai dipertengahan bulan?
Lalu apa yang membuat nilai pembayaran menjadi begitu besar? Saya lalu minta tolong pada pegawai Indomaret untuk memotret billing saya dilayar kasirnya dan hasilnya perincian hitungan sebagai berikut:
- Periode Bayar: Agustus
- Tagihan : Rp 298.472
- Periode Bayar: Sept
- Tagihan : Rp 526.600
Total Tagihan:Rp 825.072
Biaya Admin :Rp 5.000
Total Pembayaran:
Rp 830.072
Karena tidak ada perincian yang memuaskan dari billing tersebut maka pada tanggal 4 September 2019, saya putuskan untuk menunda pembayaran dan menilpon CS dari Indihome pada nomor 021-147. Karena ini telepon berbayar saya juga merasakan ada kesengajaan dari CS untuk memperlama pembicaraan lalu di over lagi kebagian lain, sampai saya kehabisan pulsa dan dengan sendirinya pembicaraan terputus. Tetapi sebelum terputus pembicaraan tersebut, saya mendapat informasi dari CS bahwa ada penambahan abondemen untuk nomor telepon tertentu sebesar Rp 87.000 ribu setiap bulannya.
Nah ini, sampai disini mulai terkuak permainan kotor dari Indihome.
Saya katakan bahwa jika ada nomor telepon kok saya tidak diberikan pesawat teleponnya? CS katakan bahwa pesawat belum ada dan nanti kalau ada (entah kapan) akan diberikan. Lalu jika tidak diberikan pesawat, boro boro pemberitahuan bahwa saya juga diberikan nomor telepon, apakah wajar jika saya dikenakan abondemen setiap bulan sebesar Rp 87 ribu rupiah atas nomor telepon yang tidak pernah saya pakai bahkan tidak saya ketahui keberadaannya? Dan selama menunggu datangnya pesawat telepon apakah saya akan tetap terus dikenakan abondemen? Sampai kapan?
Saya berpikir hare gene dimana persaingan bisnis sedang berlomba lomba memberikan kepuasan pada pelanggan (customer satisfaction) kok ada perusahaan sekelas Telkom yang menyisipkan item tagihan tidak jelas ke Billings customernya. Jadi sementara menunggu diperjelasnya persoalan, sementara saya tunda dulu pembayaran saya.
Sembari menunggu jawaban dari pihak Indihome akan soal ini yang tanpa saya harus menghabiskan pulsa telepon saya, saya berharap PT Telkom akan lebih baik lagi pelayanan kepada masyarakat pelanggannya, karena Telkom saat ini satu satunya perusahaan milik rakyat Indonesia yang masih mampu bersaing dengan berbagai perusahaan telekomunikasi milik asing di Indonesia.
(Oh iya, tolong diperbaiki saluran Internetnya karena jika kita menonton film terlalu sering dan lama bufferingnya. Bahkan sering reset ulang sendiri).
Dibuat di Cinere, Minggu pagi, 8 September 2019.
Atas Nama Pelanggan Nomor 121212260005










