Oleh: S Stanley Sumampouw

Hari Senin kemaren, 16 Maret 2020, dalam suasana mulai menghangat akan wabah Covid-19, saya seperti biasa berangkat dari rumah untuk ngantor.
Siangnya, gubernur Anies memberikan pengumuman dengan penekanan untuk mulai WFH dan rencana meliburkan sekolah. Pada saat itu, saya menonton pengumuman gubernur Anies tersebut dirumah saya yang lain didaerah Lebak Bulus Jakarta. Rencananya saya mau makan siang disana sambil bertemu dengan beberapa teman. Saya pun terjebak atau menjebakkan diri dengan kesadaran sekaligus juga keraguan, apakah saya sudah terpapar atau belum? Atau bagaimana?
Saya lalu berpikir jika saya pulang dan dirumah banyak cucu-cucu saya dan anak-anak saya, bagaimana yaaah..? Setiap pagi anak-anak saya yang bekerja menitipkan cucu-cucu saya kerumah karena kebetulan sekolahnya dekat rumah saya. Apalagi anak saya yang kedua, Astrid sedang hamil muda. Saya putuskan tidak pulang dan melakukan self isolation disini.

Jadi, sejak tanggal 16 Maret, saya sendiri disini tiada teman yang menemani. Dan jika sabtu kemaren tanggal 21 ditetapkan secara resmi oleh pemerintah untuk WFH selama 14 hari kedepan, berarti saya masih 2 minggu lagi disini tidak bertemu dengan istri, anak dan cucu-cucu saya.
Beberapa hari yang lalu saya mendapat undangan dari Ustad Nasrul Irianto Zainuddin seorang sahabat yang saya hormati. Undangan atas pernikahan Putrinya di Bojong Gede, Depok. Resepsi yang hari ini diadakan terpaksa saya tidak bisa hadir karena situasi yang tidak kondusif. Saya berdoa saja semoga kedua mempelai mendapat hidayah dan langgeng sampai akhir usia serta mendapat berkat dalam menjalankan rumah tangga. Amin.

Minggu ini saya juga dikabarkan bahwa seorang teman meninggal dunia. Beliau yang seorang profesional disebuah perusahaan unicorn besar, juga istrinya, terpapar Covid-19. Istrinya yang saat ini sedang menjalani isolasi di rumah sakit yang berlainan, kabarnya, keadaannya sudah berangsur lebih baik. Saya berdoa agar segera pulih dan sehat kembali.

Kemaren siang, istri mengabarkan jika tantenya (adik ibu mertua) meninggal dunia. Tante memang sudah sakit lama dan minggu lalu ketika kita menengok beliau memang terlihat sudah payah keadaannya.
Terjadi diskusi online antara saya, istri dan anak sulung saya. Istri mengerti bahaya untuk pergi melayat kerumah duka, tidak ada jaminan sama sekali jika melayat kesana tidak terpapar Corona. Tetapi harus bagaimana, mama mertua apakah bisa dikompromikan untuk tidak melayat mengingat ini adiknya yang meninggal dunia? Akhirnya, diputuskan tidak hadir melayat kesana. Tetapi istri dan mertua akan hadir besok diacara pemakaman di San Diego Hills dengan catatan menjaga jarak, memakai masker, serta memperhatikan protocol Covid-19 prevention.

Saya juga mengkhawatirkan pembantu dirumah dan baby sitter dari cucu saya.
Jika WFH maka mereka sudah seharusnya tinggal dirumah kita bukannya bolak balik pulang sore dan pagi kembali masuk kerumah. Siapa yang tau mereka tidak terpapar Corona selama tidak bersama kami dan bolak balik pulang pergi dari rumah.

Akhirnya kita hanya bisa menjaga dan berusaha sekuat tenaga mencegah penularan lalu sisanya berserah pada Allah Tuhan kita akan kehidupan kita. Allah yang memberi Allah pula yang menentukan kapan kita akan pulang keharibaanNYA. Amin.

Sehabis hujan, Lebak Bulus, 22 Maret 2020, pk 13.09.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini