Kedungadem,Maspolin.id – Bagi petani pupuk menjadi kebutuhan pokok untuk tanamanya, akibat kekurangan pupuk berdampak pada kualitas mutu dan penurunan hasil, dan parahnya gagal panen.
Kondisi inilah yang dialami Tarjo (bukan nama sebenarnya) dan petani lain, dalam wawancara kami tarjo menceritakan bagaimana semangatnya pergi kesawah (pagi – sore), berusaha dengan keras merawat tanamanya, karena bertani menjadi satu-satunya penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
Dalam musim ini sengaja tarjo mencoba keberuntungan dengan menanam bawang merah, segala cara sudah ditempuh agar hasil panen bisa melimpah, namun harapan itu pupus atas sulitnya pupuk terutama jenis SP 36 dan phonska, kalaupun ada harganya menjadi lebih mahal 2x dari harga biasanya.
Dalam penulusuran tim kami, menemukan laporan bahwa beberapa kelompok tani sudah menyetor uang sekitar 15 hingga 20 juta kepada kios pada kisaran Agustus 2019 lalu, hingga 2020 ini, jatah pupuk belum diterima sebagaimana mestinya.
Dipihak lain, keterangan dari kios menyatakan bahwa kios baru menerima data pupuk dari PPL nya, tentang jumlah pupuk yang harus ditebus tahun 2019 pada awal bulan Desember 2019.
Untuk menepis berbagai asumsi, maka tim media berkomunikasi dengan distributor dengan harapan meminta data tonase pupuk tahun 2018 dan 2019 ini, sebagai data pembanding.
Dari distributor lagi – lagi tim kami diping-pong agar menanyakan langsung kepada salah satu PPL yang dianggap berperan dalam membagi pupuk di kecamatan kedungadem.
“Coba mas minta data ke PPL mbak EG (Inisial), karena selama ini yang mengurus data pupuk dikecamatan kedungadem adalah mbak EG, setiap bulan juga sudah diadakan kumpulan antara kios dengan PPL” kata pihak distributor.
Saat dihubungi lewat selulernya sampai berita ini ditulis EG belum menjawab / merespon panggilan dari tim kami.Ada permainan apa antara PPL dengan Kios terkait tidak terpenuhinya jatah pupuk yang menjadi hak petani….????
AGUS










