(Dokumentasi Humas Korlantas Polri)

KORLANTAS POLRI, JAKARTA – Maspolin.id|| Saat ini, hampir setiap pemilik kendaraan bermotor di Indonesia mengenal Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan surat tilang. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa kedua sistem penting tersebut lahir dari gagasan seorang perwira polisi asal Sulawesi Utara, Irjen Pol (Purn) Alm. Drs. Ursinus Elias Medellu.

Beliau merupakan sosok visioner yang memberikan terobosan besar dalam penataan registrasi kendaraan dan penegakan hukum lalu lintas di Indonesia. Ursinus Elias Medellu lahir di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada 6 April 1922.

Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, buah hati pasangan Hengkengdame Elias Medellu dan Yochima Makahanap-Medellu. Sejak kecil, Medellu tumbuh dengan nilai-nilai kesederhanaan dan kedisiplinan yang kuat.

Pada era 1960-an, Indonesia dihadapkan pada masalah serius: maraknya pencurian kendaraan bermotor yang sulit ditangani karena tidak adanya sistem pendataan yang terstruktur.

Saat itu, Medellu menjabat sebagai Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian (MABAK) dengan pangkat Komisaris Besar. Melihat kondisi tersebut, ia merasa perlu menciptakan sistem yang dapat membantu kepolisian dalam mengidentifikasi kepemilikan kendaraan dan menekan angka kejahatan.

Gagasan ini kemudian melahirkan ide pembentukan BPKB. Namun, perjalanan mewujudkannya penuh tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan anggaran negara. Medellu pun menyusun proposal yang diajukan ke Departemen Keuangan.

Setelah melalui proses panjang, pendanaan akhirnya disetujui dan disalurkan melalui Bank Indonesia dengan sistem pinjaman. Berkat kegigihannya, proyek BPKB tidak hanya terealisasi, tetapi juga mampu memberikan dampak besar bagi kepolisian dan masyarakat.

Dari proyek ini, Medellu berhasil membangun berbagai fasilitas pendukung kepolisian, termasuk kompleks Korlantas Polri seluas empat hektar di Jalan MT Haryono, Jakarta. Selain itu, dana yang terkumpul juga dimanfaatkan untuk membangun peternakan babi untuk ekspor di Kapuk, Jakarta Barat, peternakan ayam di Cisalak, budidaya ikan di Merak, pom bensin di Pumpung, hingga bengkel di Duren Tiga. Bahkan, dari hasil pengelolaan proyek ini, kepolisian kala itu dapat mengadakan mobil patroli merek Volvo, yang pada masanya merupakan terobosan modern dalam memperkuat armada patroli.

Pada 29 Januari 1968, BPKB resmi diluncurkan dan menjadi tonggak penting dalam sistem registrasi kendaraan di Indonesia. Inovasi ini terbukti efektif mengurangi kasus pencurian kendaraan dan memberikan kejelasan hukum bagi pemilik kendaraan. Tidak berhenti di situ, Medellu juga menciptakan sistem bukti pelanggaran (tilang) dengan tiga warna, yang hingga kini masih digunakan dalam penegakan hukum lalu lintas.

Karier Medellu terus menanjak hingga ia dipercaya menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara. Selama masa jabatannya, ia melakukan pembenahan besar-besaran pada kompleks kepolisian yang sebelumnya kumuh, menjadi fasilitas yang lebih layak dan profesional. Di mata bawahannya, Ursinus dikenal sebagai sosok pemimpin yang disiplin, tegas, namun penuh perhatian.

Di balik semua pencapaiannya, Medellu tetap hidup sederhana. Ia tidak pernah memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri maupun keluarganya. Bahkan, ia dikenal menolak menerima komisi dari berbagai proyek pemerintah.

Nilai-nilai kejujuran dan disiplin ini juga ia terapkan dalam mendidik keluarganya agar tetap rendah hati.
Setelah mengakhiri pengabdiannya pada tahun 1975, Ursinus tetap aktif berkontribusi bagi bangsa. Ia mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk menjadi Presiden pertama Full Gospel International Indonesia. Ia juga terlibat dalam komunitas Rukun Kawanua, organisasi yang mewadahi masyarakat Sulawesi Utara di perantauan.

Ursinus Elias Medellu wafat pada 6 Januari 2012 dalam usia 90 tahun. Ia meninggalkan delapan anak dari dua pernikahan.

BPKB dan sistem tilang yang ia gagas menjadi bukti nyata kontribusinya bagi Indonesia. Lebih dari itu, integritas, ketulusan, dan dedikasi Ursinus menjadi teladan bagi generasi penerus kepolisian. Ia dikenang bukan hanya sebagai pejabat tinggi kepolisian, tetapi juga sebagai pejuang yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara.

 

Humas Korlantas Polri

red/mpl/pr

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini