Pengantar:
Tulisan ini dibuat dua (2) tahun yang lalu ketika pandemi Covid-19 lagi “sangar-sangar”nya.
Meskipun saat ini pandemi sudah agak longgar dan masyarakatpun sudah terbiasa dan hidup berdampingan dengan Covid, tulisan ini mengingatkan kita agar tetap waspada dan selalu tidak lengah menerapkan PROKES 5M.
Tulisan ini berhasil memotret suasana batin dan psikologi masyarakat ketika awal pandemi mulai merebak di negara kita.
(Pemred Maspolin.id)

Saya Orang Biasa Dan Covid-19
Oleh: Kepra
Selama merebaknya pandemi Covid19 ini saya belum pernah membaca informasi yang benar2 bikin mantab hati saya. Melalui berbagai sumber kita bisa ikuti simpang siurnya informasi soal Covid19 ini, baik dari sisi penularannya sampai pro kontra obat2 apa saja yang bisa digunakan untuk menyembuhkan pasien positif Covid19. Kadang malah bikin bingung. Apalagi kalau menyimak chat adu argumentasi para “akademisi WAGroup University”.
Awal2 1900an dunia begitu takut pada influenza. Sekarang lazim disebut FLU BIASA. Virus corona juga. Dari berbagai referensi bisa kita tau bahwa waktu itu jumlah yang meninggal sangat besar. Sampai akhirnya pandemi mereda. Tidak jelas juga karena apa. Karena virus tetap belum ada obatnya. Berbagai jenis antibiotik yang ditemukan efektif untuk bakteri tapi tidak untuk virus. Apakah sekarang ini influenza sudah tidak jadi momok bagi dunia karena warga dunia dengan semakin baik gizinya, imunitasnya meningkat. Atau juga karena hadirnya berbagai macam obat PEREDA gejala flu biasa. Entahlah. Dunia tenang walau virusnya tetap ada. Mungkin karena sudah ada jalan keluarnya. Walaupun belum ada jawabannya.
Satu orang kena flu biasa dan kurang lebih seminggu sembuh. Kemudian yang lain tertular, kena flu biasa juga, tapi segera akan sembuh juga. Terus saja begitu. Walau setiap hari di seluruh dunia ada yang kena influenza, sekarang hal ini tidak menjadi momok apalagi pandemi yang menakutkan.
Nah. Saat ini dunia dilanda pandemi Covid19. Yang bikin parno, virus corona yang satu ini begitu kuat. Sangar banget. Sedemikian mudahnya menular. Dan bagi yang tertular harus punya daya tahan yang extraordinary. Kalau tidak, Covid19 akan menyerang paru2 dengan dahsyatnya, dan juga dengan cepat akan memperburuk organ2 vital lainnya, apalagi yang fungsinya sudah tidak baik.
Dunia gugup, gagap bahkan panik. Berbagai protokol untuk melawan penyebaran Covid19 telah diterapkan. Setiap negara punya kebijakannya masing2.
Indonesia juga sudah mengeluarkan berbagai kebijakan. Sangat gegap gempita yang bersilat lidah menyikapi kebijakan2 ini. Saya tidak ingin beropini mengenai kebijakan ini. Emang siapa saya? Saya ini orang biasa.
Saya hanya mau berbagi apa yang ada dalam pikiran saya sebagai orang biasa di negeri ini. Hal yang saya pikirkan adalah anjuran2/protokol2 dalam masyarakat menjalankan aktifitasnya se hari2. Baik di Indonesia maupun di dunia.
Saat ini, tidak hanya di Indonesia tentunya, ada berbagai anjuran dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid19. Mulai dari #JagaJarak sampai #DiRumahAja. Intinya kita membuat diri kita dan diri orang lain tetap “steril”. Makanya harus rajin cuci tangan dan sebagainya. Dengan demikian diharapkan setelah melewati kurun waktu tertentu, mata rantai penyebaran terputus. Tidak saling mencemari, tidak saling menulari. Pertanyaannya, sampai kapan? Virusnya kan masih gentayangan? Apakah akan seperti influenza?
Hal ini sama dengan penerapan protokol keamanan. Gara2 maraknya teror di dunia yang juga terjadi di Indonesia, protokol keamanan dijalankan secara permanen. Salah satu contohnya, pemeriksaan dengan metal detektor kalau mau masuk ke ruang publik. Saya merasakan hal ini setiap hari. Ini sudah jadi protokol permanen.
Apakah hal ini juga akan terjadi dengan protokol kesehatan? Akankah se hari2 penduduk dunia akan pakai masker terus? Bahkan pakai alat seperti helm untuk mencegah terkena droplets? Akankah APD terus dibutuhkan di setiap jengkal rumah sakit setiap saat? Apakah ke mana2 dahi kita akan ditembak alat pengukur suhu badan? Apakah di setiap sudut RT/RW akan disiapkan banyak tempat cuci tangan lengkap dengan sabun dan hand sanitizer? Masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa ditambahkan sendiri.
Bisa jadi pertanyaan2 ini muncul karena keparnoan saya sendiri. Memang betul pernah ada yang namanya Ebola, SARS, H1N1 di spot2 tertentu di dunia. TAPI TAK BEGINI (lagukan dengan notasi lagunya Anang). Semua virus2 di atas tidak membuat dunia sepanik sekarang ini. Covid19 benar2 membuat kalang kabut setiap jengkal daratan yang dihuni manusia.
Harus ada terobosan di dunia kesehatan masyarakat, kedokteran dan farmasi. Dalam pandangan saya yang orang biasa ini, obat Covid19 ini harus segera ditemukan dulu. Kalau tidak ada terobosan ini, ya siap2 warga dunia menjalani kehidupan se hari2nya dengan berbagai protokol: #StayatHome, #WorkFromHome, #SocialDistancing, #PhysicalDistancing bahkan #PermanentLockdown.
ATAU memang keadaan ini akan berujung dengan hadirnya paradigma baru kehidupan manusia. Mana mungkin secara permanen manusia dibatasi ruang gerak dan mobilitasnya. Berarti yang harus berubah mindset dan life style, serta seluruh peralatan penunjang kelangsungan hidup. Yang jelas APD lengkap bisa saja akan menjadi pakaian se hari2 setiap orang. Dari 1 contoh ini saja bayangkan konsekuensi2 yang akan terjadi dengan dunia kita.
Aaaaah. Terlalu parno saya. Atau malah terlalu visioner? Tidak mungkinlah saya visioner. Siapa saya? Oleh karena itu saya ingin kembali pada apa yang diharapkan di atas. TEROBOSAN. Harus ada terobosan.
Marilah kita berharap para peneliti di seluruh dunia saat ini sedang bekerja “24/7” untuk menemukan OBAT (dengan berbagai pengertiannya) pelawan Covid19. Industri global farmasi semestinya sepenuhnya mendukung berbagai upaya penelitian ini. Dan saya rasa pastinya mereka SUDAH melakukannya. Sehingga semoga obat ini segera lahir dan bisa segera pula didistribusikan ke penjuru dunia dengan harga murah (dengan memotong berbagai prosedur perijinan dan menyubsidi biaya riset serta HAKI mengingat yang dihadapi adalah bencana global). SEMOGA. Saya yakin ini bukan sekedar harapan saya, tapi juga merupakan harapan semua orang di seluruh dunia.
Dan di Indonesia, saya punya keyakinan bahwa semua orang juga mengharapkan terobosan di atas terjadi juga. Segera lahir obat Anti Covid19 hasil dari buah pikir putra putri bangsa. Bisa obat “kimia”, bisa herbal. Indonesia kekayaan herbalnya begitu luar biasa. Semoga aneka kunyit, temulawak, jambu biji merah dan berbagai dedaunan dan pepohonan bisa diekstrasikan dan disatukan saripatinya menjadi obat mujarab untuk melawan Covid19. Ini juga bisa jadi pembuktian bahwa khasiat herbal Indonesia bukan sekedar mitos. Tapi punya landasan ilmiah. Sehingga satu hari nanti kalau gejala “masuk Covid19” menyerang, kita semua cukup buka kemasan jamu sachet TolakCovid19 atau AntiCovid19 atau apapun namanya. Sambil berujar: “COVID 19? GLEK AJA”. AMIN. SEMOGA impian ini jadi kenyataan.
Mari kita DUKUNG TERUS semua upaya di dunia dan Indonesia untuk segera memutus mata rantai penularan Covid19.
Beradu opini di media termasuk medsos mengkritisi kebijakan2 dalam penangan pandemi Covid19 sudah sampai tahap ber putar2 di situ2 saja. Malah menambah keparnoan dan ketegangan. Saya yakin bahwa selain dilontarkan ke media, pasti ada jalan lain untuk menyampaikan berbagai usulan melalui saluran yang tepat.
Saya tidak ingin ikut berdebat soal kebijakan2 tersebut. Saya berharap masyarakat juga tidak perlu ikut berdebat lagi. Sudah cukup. Perdebatannya ya cuma itu itu saja kok. Di situ2 juga. Tidak ke mana2. Di satu dua WA Group yang saya ikuti sudah kejadian. Awalnya berdebat, selanjutnya bertengkar. Padahal kita sama2 tau kalau pertengkaran tidak pernah akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ketimbang berdebat, bertengkar, sebagai orang biasa yang bisa saya lakukan adalah MENDUKUNG.
Yuk beri DUKUNGAN pada GARDA DEPAN lawan Covid19 yaitu para tenaga kesehatan berikut jajaran dan penunjangnya yang luar biasa itu dengan menaati anjuran mereka, yaitu: #DirumahAja. Para SUPERHEROES garda depan ini telah berkorban dan banyak jadi korban Covid19. Mereka hanya minta kita semua #DirumahAja.
Yuk beri DUKUNGAN ke pada para RELAWAN untuk semua upaya mereka menggalang kepedulian sosial bagi yang membutuhkan. Baik kepedulian pada jajaran garda depan maupun pada anggota masyarakat yang membutuhkan.
Yuk beri DUKUNGAN pada PEMERINTAH dengan seluruh APARATUR SIPIL & MILITERNYA dan JAJARANnya dari pusat, provinsi, kabupaten sampai ke pelosok kota dan desa, dalam mereka menjalankan kebijakan dan melaksanakan tugasnya. Menghadapi situasi dan kondisi yang sangat tidak biasa ini, tidak mungkin ada kebijakan yang ideal. Masing2 kebijakan punya konsekuensinya sendiri. Sebagai orang biasa, yang bisa saya lakukan adalah mendukung.
Dan satu lagi. Yang harus kita DUKUNG TERUS adalah para PENELITI negeri ini untuk bisa menemukan obat mujarab melawan Covid19. Karena OBAT diharapkan tidak saja memutus mata rantai penularan, tapi sekaligus berdampak jangka panjang, yaitu MENYEMBUHKAN (agar penderita tidak hanya mengandalkan daya imunnya semata). Sehingga kita dan warga dunia bisa menjalani kehidupan se hari2 seperti biasa lagi. Seperti saat sebelum terjadi pandemi Covid19. Bedanya: kita semua lebih memahami arti kata BERSYUKUR dan PEDULI. Layaknya narasi lagu What a Wonderful World.
AYO. NEK ORA ISO NGEWANGI, OJO NGRUSUHI.
Salam, Kepra
Orang Biasa
Jakarta, 3 April 2020










