MASPOLIN || Jakarta – Pernyataan Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane mendapatkan tanggapan dari Ketua Umum Masyarakat Polisi Indonesia (Maspolin) Stanley S. Sumampouw.
“Saya kira pemikiran Neta terlalu dangkal dan sudah jauh mencampuri urusan internal organisasi KBPP Polri,” ujar Stanley melalui sambungan telepon, Senin (28/9).
Stanley menduga bahwa pernyataan Neta didasari informasi yang tidak utuh dari wartawan yang mewancarainya.
“Saya menduga, Neta berbicara demikian karena dia tidak tahu persis adanya pertemuan yang disebutkan. Neta hanya mendapat informasi sepenggal, jadi komentarnya dangkal dan tendensius, “lanjut Stanley.
Menurut Stanley, KBPP Polri memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang menjadi patokan jalannya roda organisasi termasuk soal pergantian kepemimpinan.
“Siapapun berhak menjadi anggota dan mencalonkan diri sebagai ketua KBPP Polri, baik di tingkat pusat maupun daerah, asalkan dia anak dari anggota Polri, “jelas Stanley.
Jika benar ada seorang anggota DPR RI yang berniat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum KBPP Polri, menurut Stanley sah-sah saja, selama dia memenuhi syarat.
“Adanya kader partai atau pengurus partai bahkan pejabat sekalipun yang mencalonkan diri sebagai ketua umum, tidak lantas disebut telah terjadi politisasi atau meyeret KBPP Polri ke dalam politik praktis, “terang Stanley.
Stanley menyebutkan ada banyak pejabat dan politisi yang menjadi pengurus atau ketua KBPP Polri, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Di Sulawesi Utara ada Voni Panambunan, Ketua PD KBPP Polri, dia adalah Bupati Minahasa Utara, kader partai Nasdem. Di Sulsel ada Yansuri, anggota DPRD dari Golkar, di Kepri ada Suryo Respati yang menjadi wakil gubernur kader PDIP, dan masih banyak lainnya, “lanjut Stanley.
Memang banyak ketua PD KBPP Polri yang merupakan politisi, anggota dewan pejabat publik. Bahkan Bima Arya yang walikota Bogor, adalah kader PAN dan menjadi salah satu penasehat pengurus pusat KBPP Polri.
“Soal tuduhan adanya bagi-bagi uang atau money politics, itu tuduhan serius. Neta harus lebih hati-hati berkomentar, “pungkas Stanley.
(arief maspolin)










