Oleh: S Stanley Sumampouw
Polri berbenah.
Pernyataan kalimat diatas melukiskan apa yang sedang dilakukan dan diperjuangkan hingga hari ini. Terutama sejak Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian dengan Promoter dan Commander Wishnya, hingga Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit dengan Presisinya.
Public trust harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga agar Polri dapat merebut hati masyarakat, setelah bertahun kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri berada didasar urutan.
Mitra yang tepat untuk menjalankan misi ini adalah Pers. Semua pimpinan Polri seragam menyerukan bahwa Pers adalah mitra terpenting Polri.
Upaya menaikkan citra Polri terkait dengan public trust secara bersungguh-sungguh ditunjukkan dengan berbagai penertiban kedalam internal sendiri selain merubah wajah Polri menjadi lebih humanis, ramah dan bersahabat selaras dengan semboyan “melindungi-mengayomi-melayani”.
Di pihak Pers sendiri yang katanya Mitra Polri, masih mengalami berbagai perundungan, pelecehan hingga tindak kekerasan di berbagai daerah yang dilakukan oleh aparat Polri.
Yang terbaru adalah pertunjukan arogansi yang dilakukan oleh Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar kepada Wartawan bernama Furkon dari media Depok News.
Hal ini membuat protes keras dari kalangan media dan wartawan di Depok selain berujung pada laporan Furkon pada PWI Depok. Kabar terakhir, Kapolres Depok sudah datang kekantor PWI Depok untuk melakukan “islah” dengan Furkon.
Saya berpandangan, bahwa terlepas dari Kapolres Depok sudah meminta maaf dan Furkon sudah memaafkan, tetapi sekali lagi hal ini membuktikan masih rendahnya kesadaran dari pihak aparat akan tugas wartawan di lapangan. Sebagai aparatpun masih terjadi permainan kekuasaan, arogansi dan pokoknya polisi selalu benar dan yang bukan polisi selalu salah.
Rendahnya kesadaran akan tugas-tugas Wartawan dilapangan menjadi biang keladi permasalahan.
Setelah terjadi islah atau perdamaian, sibuklah para wartawan, terutama, wartawan media online menarik berita (take down) mengenai Furkon Vs Kapolres Depok ini. Saya heran, seakan-akan tindakan ini (menarik berita) dapat menghapus perbuatan dan lalu mengembalikan keadaan pada posisi sebelum kejadian. Bagaimana dengan jejak digital dan berita yang sudah terlanjur dibaca masyarakat? Untuk itulah diperlukan sikap kehati-hatian dan menahan diri dari seorang polisi. Apalagi jabatan Kapolres berpangkat Kombes.
Sementara perdamaian sudah terlaksana, dan saat itu pertemuan masih berlangsung di sekretariat PWI Depok antara Furkon dan Kapolres Depok, wa saya berbunyi ramai sekali. Saya mendapat kabar yang lebih seram dari anggota Polri, baik yang di Polda Metro maupun yang berdinas di Polres Depok yang mengatakan, tepatnya begini:
“Ijin bang, aku bukan mau ngomporin. Erwin Siregar dipolres Depok main tangan klo ada anggota yg salah…temen2 Polres banyak yg ngeluh, jadi tegang di Polres Depok.”
Bahkan seorang pamen dalam teleponnya bercerita kepada saya, bahwa dalam suatu giat Bansos, seorang anggota yang karena mengangkat karung beras seberat 50 kg menjadi lambat geraknya dihadiahi tendangan oleh Kapolres.
Pertanyaan saya, jika pimpinan Polres seperti ini apakah akan berpengaruh tidak pada pelayanan terhadap Masyarakat?
Suasana ketakutan dan tegang yang terbangun karena pimpinan yang main pukul terhadap anak buahnya, jelas akan mempengaruhi kinerja Polres Depok secara keseluruhan dalam melayani masyarakat.
Selama ini, sudah bertahun-tahun, kita sebagai masyarakat Depok menikmati kepemimpinan Polri di Depok secara prima. Artinya, kepemimpinan yang humanis, akrab dengan masyarakat dan benar-benar masyarakat merasa dinaungi. Hampir tidak ada kasus Wartawan bentrok dengan Polisi apalagi sampai ribut dengan Kapolres.
Sebelum saya akhiri tulisan ini, perlu saya ingatkan kepada kita semua bahwa kita pernah mempunyai banyak nama Kapolres yang sejuk dan amanah dalam memimpin masyarakat Depok, yg namanya tidak bisa saya sebutkan semuanya, diantara; pak Komjen Pol Suardi Alius, terakhir Kepala BNPT, pak Komjend Pol Gatot Edi yang saat ini Wakapolri, Brigjend Pol Heri Hermawan alias Heriman sampai kepada Kombes Azis Adriansyah terakhir sebelum yang sekarang.
Kami sebagai masyarakat Depok mendambakan Pimpinan Polri yang sejuk dan adem.
Saya berharap tidak lagi ada pemimpin di Polri yang main pukul dan menang-menangan terhadap masyarakat. Sudah bukan jamannya lagi. Polri harus humanis dan manusiawi.
Salam Presisi
Salam Maspolin,
Cinere Depok, 5 Agustus 2021, pk 08.19










