Oleh: Embie C Noer Kahar Muzaman seorang veteran perang kemerdekaan, tahun ini dia berusia sembilan puluh tahun. Setiap hari peringatan tujuhbelasan, dia selalu teringat peristiwa proklamasi di Jakarta. Peristiwa penting tetapi menurut Kahar aneh karena peristiwa sepenting itu diadakan teman-teman di Jakarta dengan diam-diam dan sepi-sepi saja. Setelah hari proklamasi 17 Agustus 1945, Kahar melihat sejak saat itu banyak teman-temannya mengadakan pertemuan ini itu. Mereka bertemu tapi tidak menjadi satu, mereka berkelompok. Nursaid, Kusnen, Bagja, Dimyati, Karto, Salim – mereka masing-masing membuat pertemuan sendiri-sendiri. Kahar sendiri saat itu dihubungi Bagja dan Salim, diajak untuk bergbung dengan kelompok. Kahar menolak karena dia mencium sesuatu yang kurang sreg. Firasatnya benar. Dari hari ke hari sejak proklamasi itu, teman-temannya terus bergerak dan berkelompok untuk ( berat rasanya mengatakannya ). Tahun ini teman-temanya tinggal dua orang, Bagja dan Dimyati. Bagja kondisinya sehat dan makmur tapi sering sakit-sakitan. Yang lain sudah tiada, tapi anak-anak mereka umumnya sukses, ada yang jadi pengusaha ada juga yang jadi dosen, politikus. Kahar sendiri kini tinggal di rumahnya, rumah kuno pemberian Pak Machmud, komandannya dulu. Semua anaknya menyebar, ada yang di Jawa, di Sumatra, Jakarta, Bandung. Dua tahun yang lalu istri tercintanya wafat. Kini dia tinggal bertiga dengan dua orang saudaranya dan seorang pembantu. Pada perayaan tujuhbelasan tahun ini dia merasakan sesuatu yang sepi, yang sama sepinya dengan saat proklamasi dulu dikumandangkan orang-orang Jakarta. Dia tidak ingin firasatnya yang dulu muncul lagi dan benar-benar terjadi. Kalau sampai terjadi peristiwa seperti dulu, dia berharap saat ini ada figur seperti Dirkam yang muncul untuk membereskan semuanya. Dirkam adalah sahabatnya yang tinggal di daerah Sukamandi, seorang pemberani tanpa kompromi yang jiwanya bersih dari segala keculasan. Saat terjadi kasak-kusuk setelah peristiwa proklamasi di Jakarta, Dirkam berniat menghimpun teman-temannya yang sehati untuk melakukan ‘pembersihan’. Kalau Dirkam tidak keburu mati diracun seorang sahabatnya, Kahar yakin Dirkam mampu mewujudkan rencana yang dia istilahkan sebagai; revolusi dalam revolusi! Ada rasa aneh di hatinya saat ini. Boleh jadi ini pertanda baik atau sebaliknya pertanda yang lain… Lamat-lamat dia mendengar ada suara Wahono di luar yang sedang bicara dengan pembantunya. Wahono orang partai kepercayaan orang-orang Jakarta yang sering bolak-balik menemui dia untuk menjenguk. Dia masih famili dekat Kusnen. “Selamat pagi komandan! Merdeka!” Wahono selalu bicara keras dia mengira Kahar yang tua tuli. Jakarta, 17 Agustus 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini