Oleh: S Stanley Sumampouw
Pada saat saya menulis artikel ini, dimana- mana kasus Covid meledak. Bahkan di komplek perumahan saya telah ditetapkan sebagai “Red Zone” atau Zona Merah di wilayah Depok.
Kita banyak mendengar penanganan Covid yang kurang, tetapi kita tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai kesengajaan. Bahkan pada saat berita tersebut menyiratkan itu kesengajaan kita tidak benar-benar menganggap itu sebagai kebenaran.
Sampai saya ketemu dengan seorang sahabat yang melakukan terapis tenaga dalam kepada saya, bahwa istrinya baru saja keluar dari Rumah Sakit Fatmawati setelah dirawat isolasi Covid, dan dinyatakan negatif. Padahal tidak pernah sakit Covid-19.
Begini ceritanya: Awalnya istrinya mengeluh sakit leher dan batuk batuk. Lalu oleh sang suami disarankan untuk periksa ke klinik Rumah Sakit Fatmawati. Setelah dilakukan pemeriksaan pada klinik, sang istri dikirim kebagian rontgen (ronsen) untuk dilakukan pemotretan pada paru2nya. Dan hasilnya ada flek pada paru2nya. Dan sejak itu istrinya tidak diperbolehkan pulang dan harus masuk perawatan Covid-19 di Rumah Sakit Fatmawati. Pada saat di vonis menderita Covid-19, si istri melakukan tes swab sampai dua kali dengan hasil yang tidak diumumkan. Dia di tempatkan di kamar isolasi untuk dua orang seluas 4×5 meter. Dan pintu kamar hanya bisa dibuka dari luar. Dan selama 2 minggu teman sekamarnya gonta ganti karena meninggal terus. Bisa kita bayangkan situasi yang harus dialami oleh si istri selama 2 minggu. Katanya, dia sampai hapal bunyi mesin yang dipasangkan pada pasien sebelah jika meninggal. Komunikasi dengan suster hanya dilakukan dengan cctv yang dipasang di kamar. Dan itu pun setelah teman sekamar meninggal tidak langsung diangkat, bisa berjam-jam kemudian baru diangkat. Bisa anda bayangkan situasi yang dialami oleh istri teman saya tersebut? Menurut teman saya, setelah dua minggu dan hasil swab dinyatakan dia tidak menderita Covid-19, jiwanya agak tergoncang.
Saya percaya cerita sahabat saya ini. Saya juga menjadi percaya dengan cerita cerita sebelumnya yang menyatakan bahwa terjadi permainan kotor rumah sakit dalam rangka mengincar dana perawatan per hari pasien covid yaang jutaan (kalau tidak salah untuk RS Fatmawati Rp 8,5 juta).
Pertanyaannya sekarang berapa banyak orang sehat yang di covid-kan dan terjangkit covid di isolasi lalu meninggal?
Buat saya, siapapun dokter atau suster di RS Fatmawati yang melakukan diagnosa seseorang yg sehat terkena Covid adalah perbuatan yang tidak berprikemanusiaan dan sadis! Harus diusut ini. Sudah berapa banyak manusia yang di covidkan selama ini?
Saya menyerukan kepada masyarakat agar hati-hati berobat kerumah sakit Fatmawati jika anda tidak mau di Covid-kan.
Waspadalah…..
Cinere, Depok, 24 Juni 2021, pk 07.27.










