Layanan Skype Mei 2025 ditutup. Apa Penyebabnya?
Maspolin.id|| Microsoft mengumumkan bahwa layanan panggilan video Skype yang telah digunakan ratusan juta orang akan tutup mulai bulan Mei 2025 mendatang.
Maspolin.id|| Microsoft mengumumkan bahwa layanan panggilan video Skype yang telah digunakan ratusan juta orang akan tutup mulai bulan Mei 2025 mendatang.
JAKARTA – Maspolin.id|| Presiden RI Prabowo Subianto akan menerima Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Komunis Vietnam (PKV) To Lam dengan upacara kenegaraan yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (10/3) sore.
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Yusuf Permana, mengatakan Presiden Prabowo dijadwalkan menerima Sekjen To Lam di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin sekitar pukul 16.30 WIB.
“Sekjen To Lam akan disambut dengan Upacara Kenegaraan, yang kemudian akan dilanjutkan dengan pertemuan tete-a-tete antara kedua pemimpin,” kata Yusuf dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Minggu.
Setelah pertemuan tatap muka Presiden Prabowo dan Sekjen To Lam, acara dilanjutkan dengan pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia dan Vietnam untuk membahas penguatan kerja sama di berbagai bidang strategis.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, Presiden Prabowo dan Sekjen To Lam akan memberikan keterangan pers bersama guna menyampaikan hasil pertemuan kepada publik.
Pihak Istana pun mengundang secara terbuka media Kepresidenan untuk meliput upacara kenegaraan penyambutan Sekjen To Lam di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Selain penyambutan kenegaraan dan pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta, selama di Indonesia Sekjen To Lam juga diagendakan untuk bertemu dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPR RI Puan Maharani, dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, serta para pengusaha.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Sekjen To Lam beserta istrinya Ngo Phu’o’ng Ly tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu siang, dalam rangka kunjungan kenegaraan yang menandai 70 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Vietnam.
Lawatan To Lam ke Jakarta berlangsung pada 9–11 Maret 2025, serta merupakan yang pertama sejak To Lam menjabat sebagai Sekjen Partai Komunis Vietnam.
Antara
red/mpl/sss
(Foto Bloomberg Technoz)
JAKARTA – Maspolin.id|| Pemerintah menemukan produk Minyakita dengan isi yang kurang dari yang seharusnya. Dimana Minyakita dimana kemasan 1 liter hanya diisi 750 hingga 800 mililiter.
Ada juga pedagang yang menjual Minyakita di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal itu terungkap saat Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan inspeksi ke Pasar Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu (8/3/2025).
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai, praktik tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor.
Ia menjelaskan, HET Minyakita saat ini Rp15.700/liter, mulai berlaku pada 14 Agustus 2024. HET ini naik dari HET sebelumnya sebesar Rp14.000/liter.
Tapi sebenarnya, harga Minyakita di level konsumen yang berada di atas HET bukan hal baru.
“Harga nangkring di atas HET setidaknya sudah terjadi sejak pertengahan 2023. Jadi, harga di atas HET sudah cukup lama,” kata Khudori dalam keterangannya kepada Kompas.tv, Minggu (9/3).
Menurutnya, faktor pertama yang membuat adanya pengurangan isi kemasan Minyakita dan harga jual di atas HET, karena harga bahan bakunya juga sudah tinggi.
Harga bahan baku minyak goreng sawit, yakni CPO, dalam negeri selama 6 bulan terakhir sekitar Rp15.000-16.000 per kg. Dengan angka konversi CPO ke minyak goreng 68,28 persen dan 1 liter setara 0,8 kg , diketahui untuk memproduksi Minyakita seharga Rp15.700/liter maka harga CPO maksimal Rp13.400/kg.
“Ini baru menghitung bahan baku CPO. Belum memperhitungkan biaya mengolah, biaya distribusi, dan margin keuntungan usaha. Kalau ketiga komponen itu diperhitungkan, sudah barang tentu harga CPO harus lebih rendah lagi,” ujarnya.
Artinya, lanjut Khudori, dengan tingkat harga CPO saat ini dan keharusan produsen Minyakita menjual ke Distributor 1 (D1) maksimal sebesar Rp13.500/liter adalah tidak mungkin tanpa kerugian.
“Pengusaha mana yang kuat jika terus merugi? Usaha mana yang sustain bila harus jual di bawah harga produksi,” ucapnya.
Menurutnya, jika tidak ada koreksi kebijakan, ada dua yang berkemungkinan terjadi. Pertama, produsen menjual Minyakita sesuai HET tapi mengorbankan kualitas.
Menyunat isi kemasan, lanjutnya, bisa dimasukkan dalam konteks “mengorbankan kualitas”.
Kedua, produsen tetap memproduksi Minyakta sesuai kualitas (termasuk tidak menyunat isi) tetapi menjual dengan harga di atas HET.
“Bahwa keduanya berisiko dan melanggar aturan, ya. Tapi kalau aturan yang ada tidak memungkinkan usaha eksis dan sustain tanpa melanggar aturan, yang patut disalahkan pengusaha atau pembuat regulasi? Atau keduanya?,” kata Khudori.
Menilik sejarah produk Minyakita, awalnya adalah bernama Minyak Goreng Rakyat. Ini diatur di Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 49/2022 tentang Tata Kelola Program Minyak Goreng Rakyat.
Salah satu tujuannya adalah memastikan ketersediaan minyak goreng di dalam negeri melalui skema wajib pasok pasar domestik (domestic market obligation/DMO).
Pemenuhan DMO merupakan syarat eksportir CPO mendapatkan izin ekspor dari pemerintah dengan rasio tertentu sesuai dinamika pasar.
** Berita ini sudah dimuat di Kompas.tv, edisi 10 Maret 2025.
red/mpl/sss
LEMDIKLAT POLRI – Maspolin.id|| Brigjen Pol Dirin, S.I.K., M.H., Kepala Sekolah Pembentukan Perwira Lemdiklat Polri, secara resmi membuka kegiatan Pembinaan Tradisi (Bintra) bagi calon siswa Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan ke-54 Gelombang I Tahun Anggaran 2025. Acara tersebut berlangsung di Lapangan Soetadi Ronodipuro Setukpa Lemdiklat Polri Kota Sukabumi. 06 Maret 2025.
Bintra atau Orientasi Lingkungan merupakan tahap awal yang penting bagi para calon perwira untuk mengenal lingkungan pendidikan mereka. Selain itu kegiatan ini bertujuan untuk melatih fisik dan membangun hubungan baik antara siswa, pendidik, pengasuh, dan personel Setukpa. Brigjen Pol Dirin, S.I.K., M.H. menekankan bahwa para siswa harus menjaga kesehatan fisik dan keselamatan selama mengikuti pendidikan.
Beliau juga menegaskan bahwa proses pendidikan untuk menjadi perwira tidaklah mudah dan memerlukan sikap serta keterampilan yang mumpuni. Oleh karena itu para siswa diharapkan mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh lembaga dan menjauhi segala bentuk pelanggaran yang dapat merugikan diri sendiri.
Setelah upacara pembukaan Bintra atau Orientasi Lingkungan, 1800 siswa yang hadir di lapangan mengikuti uji fisik yang dipandu oleh para pengasuh dari Setukpa Lemdiklat Polri.
Dengan dimulainya Bintra ini diharapkan para calon perwira dapat menjalani proses pendidikan dengan baik dan siap mengemban amanah sebagai pemimpin di institusi Polri.
HUMAS POLRI
red/mpl/pr
MABES POLRI – Maspolin.id|| Enam dokter muda asal Papua saat ini tengah menjalani pendidikan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) Gelombang I tahun 2025. Mereka adalah Jack Johanes Pical, Ilham Aaas Hamka, Alex Stendly Nuburi, Herlambang Andreka Junior Dwi Putra, Arfinsasi Putra dan Marlina Putri Purnama Sari Pekpekai.
Para dokter muda ini memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam, namun memiliki satu tujuan yang sama, yakni memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Papua. Mereka menyadari betul bahwa akses layanan kesehatan di Papua, terutama di daerah pelosok, masih sangat terbatas.
“Saya melihat sendiri bagaimana sulitnya akses layanan kesehatan di Bintuni. Banyak daerah pesisir dan pegunungan yang kekurangan tenaga dokter. Melalui SIPSS, saya berharap bisa menjadi dokter sekaligus polisi, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Jack Johanes Pical, salah satu peserta didik SIPSS Gel I T.A 2025.
Pengalaman yang hampir sama dituturkan Alex Stendly Nuburi. Ia menceritakan kondisi alam Papua menjadi tantangan tersendiri pasien dan juga para tenaga medis.
“Tahun 2024 saya bekerja di puskesmas Arbaiz yang terletak di Kabupaten Sarmi yang waktu tempuhnya sekitar 10 jam dari kota Jayapura. Puskesmas saya itu merupakan puskesmas yang terpencil,” kata Alex.
Minimnya tenaga medis dan fasilitas Kesehatan di Papua juga menjadi motivasi Herlambang Andreka Junior Dwi Putra. Menjadi dokter merupakan keinginan kecilnya untuk menolong keluarganya. Beranjak besar, ia melihat bahwa tidak hanya keluarganya yang membutuhkan bantuan medis, tapi juga masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal.
“Menjadi dokter merupakan cita-cita kecil menolong orang. Kini saya mendapat kesempatan untuk memberi manfaat kepada lebih banyak orang dengan menjadi siswa SIPSS yang nantinya disiapkan sebagai polisi dengan keahlian di bidang medis,”kata Herlambang.
Para dokter muda ini memiliki mimpi besar untuk mengembangkan karir mereka di bidang spesialisasi kedokteran. Beberapa di antaranya bercita-cita menjadi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, penyakit dalam, bedah, kandungan, dan saraf.
Seperti pengalaman Marlina. Ia melihat di daerahnya belum ada dokter ahli syaraf. Banyak lansia yang tidak mendapat perawatan yang layak karena kekurangan tenaga medis ahli di bidang syaraf termasuk kakeknya sendiri.
“Saat saya sedang internship di Merauke di sana saya tinggal bersama kakek saya yang usianya sudah renta di atas 70 tahun di mana beliau pada saat itu terkena serangan stroke sedangkan di Merauke pada saat itu sama sekali tidak ada dokter saraf sehingga kakek saya berpulang. Dari situ saya memiliki nilai sensitifitas terhadap bidang ini,” kata Marlina.
Keinginan untuk memberikan perawatan kepada masyarakat kurang mampu di Papua terutama lansia juga diutarakan Ilham Aaas Hamka.
“Setelah menjadi dokter polisi saya ingin melanjutkan lagi menjadi dokter spesialis terutama dokter spesialis penyakit dalam. Kenapa saya memilih spesialis penyakit dalam karena untuk penyakit dalam ruang lingkup pengetahuannya sangat luas. Misalnya pada saat ada pasien jantung dan pasien itu geriatri atau usia lanjut pasti akan dikonsulkan kepada spesialis penyakit dalam,” ujar Ilham.
Keinginan menjadi dokter spesialis internis juga disampaikan Arfinsasi Putra. Ia mengatakan kondisi ini jelas terlihat saat ia bertugas di Papua Pegunungan.
“Masyarakat di Papua Pegunungan banyak yang memiliki keluhan penyakit dlaam tapi di sana adanya dokter umum, termasuk saya. Hal ini yang memotivasi saya untuk melanjutkan spesialisasi penyakit internis untuk menolong warga yang membutuhkan layanan Kesehatan penyakit dalam,” kata Arfin.
Irwasum Polri Komjen Pol Dedi Prasetyo menyambut baik cita-cita enam dokter muda asal pengiriman Polda Papua ini.
“Kami sangat mengapresiasi semangat pengabdian para dokter muda asal Papua. Kehadiran mereka di Polri akan memperkuat upaya kami dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat, khususnya di daerah terpencil,” ujarnya.
Komjen Pol Dedi Prasetyo juga menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan program kesehatan pemerintah Prabowo untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan di daerah terpencil dan tertinggal.
“Pemerintah pak Prabowo berupaya menyediakan fasilitas Kesehatan yang lebih baik di daerah pelosok termasuk Papua. Polri mendukung dengan merekrut dokter-dokter melalui penerimaan SIPSS. Mereka nantinya akan kami tugaskan di tempat asal mereka di Papua,” imbuh Komjen Pol Dedi Prasetyo.
Para dokter muda asal Papua juga berharap bisa segera menyelesaikan pelatihan dan kembali ke kampung halaman mereka untuk mengabdikan kepada Masyarakat Papua sebagai dokter dan juga polisi sebagai bentuk kontribusi nyata bagi peningkatan layanan kesehatan di tanah kelahiran mereka.
HUMAS POLRI
red/mpl/nn